11 orang yang mecoba mengejar mimpi menjadi seorang dokter yang sukses

Thursday, July 27, 2017

Fraktur



BAB I
PENDAHULUAN
            Fraktur merupakan suatu patahan pada kontinuitas struktur jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan trauma, baik trauma langsung ataupun tidak langsung. Akibat dari suatu trauma pada tulang dapat bervariasi tergantung pada jenis, kekuatan dan arahnya trauma. Patahan tadi mungkin tidak lebih dari suatu retakan, suatu pengisutan atau perimpilan korteks, biasanya patahan itu lengkap dan fragmen tulang bergeser. Kalau kulit diatasnya masih utuh, keadaan ini disebut fraktur tertutup (fraktur sederhana), kalau kulit atau salah satu dari rongga tubuh tertembus keadaan ini disebut fraktur terbuka (fraktur compound) yang cenderung mengalami kontaminasi dan infeksi.
            Tulang bersifat relatif rapuh, namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan. Fraktur dapat terjadi akibat :
  1. Peristiwa trauma tunggal.
  2. Tekanan yang berulang-ulang.
  3. Kelemahan abnormal pada tulang (fraktur patologik).
Penampilan fraktur dapat sangat bervariasi tetapi untuk alasan yang praktis fraktur dibagi beberapa kelompok :
1.      Fraktur lengkap
Tulang patah menjadi dua fragmen atau lebih. Termasuk disini adalah fraktur kominutif yang merupakan fraktur dengan lebih dari dua fragmen karena ikatan sambungan pada permukaan fraktur tidak baik, fraktur ini sering tak stabil.
2.      Fraktur tidak lengkap
Tulang terpisah secara tidak lengkap dan periosteum tetap menyatu. Biasanya pada fraktur greenstick tulang bengkok atau melengkung, ditemukan pada anak. Selain itu fraktur tidak lengkap bisa terdapat pada fraktur kompresi.
Trauma langsung akibat benturan akan menimbulkan garis fraktur transversal dan kerusakan jaringan lunak. Benturan yang lebih keras disertai dengan penghimpitan tulang akan mengakibatkan garis fraktur kominutif diikuti dengan kerusakan jaringan lunak yang lebih luas. Trauma tidak langsung mengakibatkan fraktur terletak jauh dari titik trauma dari jaringan sekitar fraktur tidak mengalami kerusakan berat. Pada olahragawan, penari dan tentara dapat pula terjadi fraktur pada tibia, fibula atau metatarsal yang disebakan oleh karena trauma yang berulang.


BAB II
FRAKTUR TERBUKA
DEFINISI
            Fraktur terbuka merupakan suatu fraktur dimana terjadi hubungan dengan lingkungan luar melalui kulit sehingga terjadi kontaminasi bakteri, sehingga timbul komplikasi berupa infeksi.


ETIOLOGI
            Fraktur terjadi bila ada suatu trauma yang mengenai tulang, dimana trauma tersebut kekuatannya melebihi kekuatan tulang, 2 faktor yang mempengaruhi terjadinya fraktur :
1.      Ekstrinsik meliputi kecepatan dan durasi trauma yang mengenai tulang, arah dan kekuatan trauma.
2.      instrisik meliputi kapasitas tulang mengasorbsi energi trauma, kelenturan, kekuatan dan densitas tulang.
            Setelah fraktur lengkap, fragmen-fragmen biasanya bergeser. Sebagian oleh gaya berat dan sebagian oleh tarikan otot yang melekat padanya. Pergeseran biasanya disebut dengan aposisi, penjajaran (alignment), rotasi dan berubahnya panjang.
            Semua fraktur terbuka harus dianggap terkontaminasi, sehingga mempunyai potensi untuk terjadi infeksi. Pada fraktur tulang dapat terjadi pergeseran fragmen-fragmen tulang. Pergeseran fragmen bisa diakibatkan adanya keparahan cedera yang terjadi, gaya berat, maupun tarikan otot yang melekat padanya. Pergeseran fragmen fraktur akibat suatu trauma dapat berupa :
  1. Aposisi (pergeseran ke samping/ sideways, tumpang tindih dan berhimpitan/ overlapping, bertrubukan sehingga saling tancap/ impacted) : fragmen dapat bergeser ke samping, ke belakang atau ke depan dalam hubungannya dengan satu sama lain, sehingga permukaan fraktur kehilangan kontak. Fraktur biasanya akan menyatu sekalipun aposisi tidak sempurna, atau sekalipun ujung-ujung tulang terletak tidak berkontak sama sekali.
  2. Angulasi (kemiringan/ penyilangan antara kedua aksis fragmen fraktur) : fragmen dapat miring atau menyudut dalam hubungannya satu sama lain.
  3. Rotasi (pemuntiran fragmen fraktur terhadap sumbu panjang) : salah satu fragmen dapat berotasi pada poros longitudinal, tulang itu tampak lurus tetapi tungkai akhirnya mengalami deformitas rotasional.
  4. Panjang (pemanjangan atau pemendekan akibat distraction atau overlapping antara fragmen fraktur) : fragmen dapat tertarik dan terpisah atau dapat tumpang tindih, akibat spasme otot, menyebabkan pemendekan tulang.
Hubungan garis fraktur dengan energi trauma :
           
GARIS FRAKTUR
MEKANISME TRAUMA
ENERGI
Transversal, oblik, spiral (sedikit bergeser/ masih ada kontak)
Angulasi/ memutar
Ringan
Butterfly, transversal (bergeser), sedikit kominutif
Kombinasi
Sedang
Segmental kominutif (sangat bergeser)
Variasi
Berat

KALSIFIKASI
            Kalsifikasi fraktur terbuka paling sering digunakan menurut Gustillo dan Anderson (1976), yang menilai fraktur terbuka berdasarkan mekanisme cedera, derajat kerusakan jaringan lunak, konfigurasi fraktur dan derajat kontaminasi. Kalsifikasi Gustillo ini membagi fraktur terbuka menjadi tipe I, II, dan III :

TIPE
BATASAN
I
Luka bersih dengan panjang luka < 1 cm
II
Panjang luka >1 cm tanpa kerusakan jaringan lunak yang berat
III
Kerusakan jaringan lunak yang berat dan luas, fraktur segmental terbuka, trauma amputasi, luka tembak dengan kecepatan tinggi, fraktur terbuka di pertanian, fraktur yang perlu repair vaskulr dan fraktur yang lebih dari 8 jam setelah kejadian.

Keterangan :
  • Tipe I berupa luka kecil kurang dari 1 cm akibat tusukan fragmen fraktur dan bersih. Kerusakan jaringan lunak sedikit dan fraktur tidak kominutif. Biasanya luka tersebut akibat tusukan fragmen fraktur atau in-out.
  • Tipe II terjadi jika luka lebih dari 1 cm tapi tidak banyak kerusakan jaringn lunak dan fraktur tidak kominutif.
  • Tipe III dijumpai kerusakan hebat maupun kehilangan cukup luas pada kulit, jaringan lunak dan putus atau hancurnya struktur neurovaskuler dengan kontaminasi, juga termasuk fraktur segmental terbuka atau amputasi traumatik.
Kalsifikasi ini juga termasuk trauma luka tembak dengan kecepatan tinggi atau
high velocity, fraktur terbuka di pertanian, fraktur yang perlu repair vaskulr dan fraktur yang lebih dari 8 jam setelah kejadian. Kemudian Gustillo membagi tipe III menjadi subtipe, yaitu tipe IIIA, IIIB, dan IIIC :

TIPE
BATASAN
IIIA
Periostenum masih membungkus fragmen fraktur dengan kerusakan jaringn lunak yang luas
IIIB
Kehilangan jaringn lunak yang luas, kontaminasi berat, periostenal striping atau terjadi bone expose
IIIC
Disertai kerusakan arteri yang memerlukan repair tanpa melihat tingkat kerusakan jaringn lunak

Keterangan :
  • Tipe IIIA terjadi apabila fragmen fraktur masih dibungkus oleh jaringan lunak, walaupun adanya kerusakan jaringan lunak yang luas dan berat.
  • Tipe IIIB terjadi pada fragmen fraktur tidak dibungkus oleh jaringn lunak, sehingga tulang terlihat jelas atau bone expose, terdapat pelepasan periosteum, fraktur kominutif. Biasanya disertai kontaminasi masif dan merupakan trauma high energy tanpa memandang luas luka.
  • Tipe IIIC terdapat trauma pada arteri yang membutuhkan perbaikan agar kehidupan bagian distal dapat dipertahankan tanpa memandang derajat kerusakan jaringan lunak.  

DIAGNOSIS
            Diagnosis fraktur terbuka dapat ditegakkan dengan riwayat penderita, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan radiologis.
Riwayat
            Faktor trauma kecepatan rendah atau taruma kecepatan tinggi sangat penting dalam menentukan klasifikasi fraktur terbuka karena akan berdampak pada kerusakan jaringan itu sendiri. Riwayat trauma kecelakaan lalu lintas, jatuh dari tempat ketinggian, luka tembak dengan kecepatan tinggi atau pukulan langsung oleh benda berat akan mengakibatkan prognosis jelek dibanding trauma sederhana atau trauma olah raga. Penting adanya deskripsi yang jelas mengenai keluhan penderita, biomekanisme trauma, likasi dan derajat nyeri. Umur dan kondisi penderita sebelum kejadian seperti penyakit hipertensi, diabetes melitus dan sebagainya merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan juga. Kalau fraktur terjadi akibat cedera ringan, curigailah lesi patologi. Nyeri, memar, dan pembengkakan adalah gejala yang sering ditemukan, tetapi gejala itu tidak membedakan fraktur dari cedera jaringan lunak. Deformitas jauh lebih mendukung.
            Selalu tanyakan mengenai gejala-gejala cedera yang berkaitan, seperti baal atau hilangnya gerakan, kulit yang pucat/ sianosis, darah dalam urin, nyeri perut, hilangnya kesadaran untuk sementara. Tanyakan juga tentang cedera sebelumnya.
Pemeriksaan fisik
            Jaringan yang mengalami cedera juga harus ditangani dengan hati-hati. Untuk menimbulkan krepitus atau gerakan yang abnormal tidak perlu menimbulkan nyeri, diagnosis dengan foto rontgen lebih dapat diandalkan. Namun butir-butir pemeriksaan klinik yang biasa harus selalu dipertimbangkan, kalau tidak kerusakan pada arteri dan saraf dapat terlewatkan. Pemeriksaan yang harus dilakukan adalah identisifikasi luka secara jelas dan gangguan neurovaskular bagian distal dan lesi tersebut. Pulsasi arteri bagian distal penderita hipotensi akan melemah dan dapat menghilangkan sehingga dapat terjadi kesalahan penilaian vaskular tersebut.bila disertai trauma kepala dan tulang belakang maka akan terjadi kelainan sensasi nervus perifer di distal lesi tersebut. Pemeriksaan kulit seperti kontaminasi dan tanda-tanda lain perlu dicatat.
Pemeriksaan yang dilakukan adalah :
  1. Look (inspeksi)
Pembengkakan, memar, dan deformitas mungkin terlihat jelas, tetapi hal yang penting adalah apakah kulit itu utuh atau tidak. Kalau kulit robek dan luka memiliki hubungan dengan fraktur, cedera itu terbuka (compound).
  1. Feel (palpasi)
Terdapat nyeri tekan setempat, tetapi perlu juga memeriksa bagian distal dari fraktur untuk merasakan nadi dan untuk menguji sensasi. Cedera pembuluh darah adalah keadaad darurat yang memerulkan pembedahan.
  1. Movement (gerakan)
Krepitus dan gerakan abnormal dapat ditemukan, tetapi lebih pnting untuk menanyakan apakah pasien dapat menggerakkan sendi-sendi di bagian distal dari cedera.
Pemeriksaan radiologis
            Pemeriksaan radiologis bertujuan untuk menentukan keparahan kerusakan tulang dan jaringn lunak yang berhubungn dengan derajat energi dari trauma itu sendiri. Bayangan udara di jaringan lunak merupakan petunjuk dalam melakukan pembersihan luka atau irigasi dalam melakukan debridement. Bila bayangan udara tersebut tidak berhubungandengan daerah fraktur maka dapat ditentukan bahwa fraktur tersebut adalah fraktur tertutup. Radiografi dapat terlihat bayangan benda asing disekitar lesi sehingga dapat diketahui derajat keparahan kontaminasi disamping melihat kondisi fraktur atau tipe fraktur itu sendiri. Diagnosis fraktur dengan tanda-tanda klasik dapat ditegakkan secara klinis, namun pemeriksaan radiologis tetap diperlukan untuk konfirmasi untuk melengkapi deskripsi fraktur, kritik medikolegal, rencana terapi dan dasar untuk tindakan selanjutnya. Sedangkan untuk fraktur-fraktur yang tidak memberikan gejala kalsik dalam menentukan diagnosa harus dibantu pemeriksaan radiologis sebagai gold standart.
Untuk menghindari kesalahan maka dikenal formulasi hukum dua, yaitu ;
  1. Dua pandangan
Fraktur atau dislikasi mungkin tidak terlihat pada film rontgentunggal, dan sekurang-kurangnya harus dilakukan dua sudut pandang (anteroposterior dan lateral).
  1. Dua sendi
Pada lengan bawah atau kaki, satu tulang dapat mengalami fraktur dan angulasi. Tetapi, angulasi tidak mungkin terjadi kecuali kalau tulang yang lain juga patah, atau suatu sendi mengalami dislokasi. Sendi-sendi di atas dan di bawah fraktur keduanya harus disertakan pada foto rontgen.
  1. Dua tungkai
Pada rontgen tulang anak-anak epifisis yang normal dapat mengacaukan diagnosis fraktur. Foto pada tungkai yang tidak cedera akan bermanfaat.
  1. Dua cedera
Kekuatan yang hebat sering menyebabkan cedera pada lebih dari satu tingkat. Karena itu, bila ada fraktur pada kalkaneus atau femur, perlu juga diambil foto rontgen pada pelvis dan tulang belakang.
  1. Dua kesempatan
Segera setelah cedera, suatu fraktur (skafoid karpal) mungkin sulit dilihat. Kalau ragu-ragu, sebagai akibat resorpsi tulang, pemeriksaanlebih jauh 10-14 hari kemudian dapat memudahkan diagnosis.
Pencitraan khusus
            Kadang-kadang fraktur  atau keseluruhan fraktur tidak nyata pada foto rontgen biasa. Tomografi mungkin berguna untuk lesi spinal atau fraktur kondilus tibia. CT atau MRI mungkin merupakan satu-satunya cara untuk menunjukkan apakah fraktur vertebra mengancam akan menekan medula spinalis, sesungguhnya potret transeksional sangat penting untuk visualisasi fraktur secara tepat pada tempat yang sukar misalnya kalkaneus atau asetabulum, dan potret rekonstruksi tiga dimensi bahkan lebih baik. Scanning radioisotop berguna untuk mendiagnosis fraktur tekanan yang dicurigai atau fraktur tidak bergeser yang lain.
PENATALAKSANAAN
            Banyak pasien dengan fraktur terbuka mengalami cedera ganda dan syok hebat. Bagi mereka, terapi yang tepat di tempat kecelakaan sangat penting. Luka harus ditutup dengan pembalut steril atau bahan yang bersih dan dibiarkan tidak terganggu hingga pasien mencapai bagian rawat kecelakaan.
            Di Rumah Sakit, penilaian umum yang cepat merupakan langkah yang pertama, dan setiap keadaan yang membahayakan jiwa dapat diatasi. Luka kemudian diperiksa, idealnya dipotret dengan kamera polaroid. Setelah itu dapat ditutup lagi dan dibiarkan tidak terganggu hingga pasien berada di kamar bedah. Empat pertanyaan yang perlu dijawab :
  1. Bagaimana sifat luka tersebut.
  2. Bagaimana keadaan kulit di sekitar luka.
  3. Apakah  sirkulasi cukup baik.
  4. Apakah saraf utuh.
Semua fraktur terbuka, tidak peduli seberapa ringannya, harus dianggap terkontaminasi, penting untuk mencoba mencegahnya infeksi. Untuk tujuan ini, perlu diperhatikan empat hal yang penting :
  1. Pembalutan luka dengan segera.
  2. Profilaksis antibiotika.
  3. Debridement luka secara dini.
  4. Stabilisasi fraktur.
Penanganan fraktur terbuka
            Pada kasus fraktur terbuka diperlukan ketepatan dan kecepatan diagnosis pada penanganan agar komplikasi terhindar dari kematian atau kecacatan. Penatalaksanaan fraktur terbuka derajat III meliputi tindakan life saving dan life limb dengan resusitasi sesuai dengan indikasi, pembersihan luka dengan irigasi, eksisi jaringan mati dan debridement, pemberian antibiotik (sebelum, selama, dan sesudah operasi), pemberian anti tetanus, penutupan luka, stabilisasi fraktur dan fisioterapi. Tindakan definitif dihindari pada hari ketiga atau keempat karena jaringan masih inflamasi/ infeksi dan sebaiknya ditunda sampai 7-10 hari, kecuali dapat dikerjakan sebelum 6-8 jam pasca trauma.


            Prinsip penanganan fraktur terbuka derajat III secara umum adalah sebagai berikut :
1.      Pertolongan pertama
Secara umum adalah untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri dan mencegah gerakan-gerakan fragmen yang dapat merusak jaringan sekitarnya. Stabilisasi fraktur bisa menggunakan splint atau bandage yang mudah dikerjakan dan efektif. Luka ditutup dengan material yang bersih dan steril.
2.      Resusitasi
Penatalaksanaan sesuai dengan ATLS (Advance Trauma Life Support) dengan memberikan penanganan sesuai prioritas (resusitasi), bersamaan itu pula dikerjakan penanganan fraktur terbuka agar terhindar dari komplikasi. Kehilangn banyak darah pada frkatur terbuka derajat III dapat mengakibatkan syok hipovolemik dan dapat diperberat oleh rasa nyeri yang dapat menyebabkan syok neurogenik. Tindakan resusitasi dilakukan dilakukan bila ditemukan tanda syok hipovolemik, gangguan nafas atau denyut jantung karena fraktur terbukaseringkali bersamaan dengan cedera organ lain. Penderita diberikan resusitasi cairan Ringer Laktat atau transfusi darah dan pemberian analgetik selama tidak ada kontraindikasi. Pemeriksaan radiologis dilakukan setelah pasien stabil.
3.      Penilaian awal
Pemeriksaan yang teliti dan hati-hati merupakan dasar dalam observasi dan penanganan awal yang memadai. Fakta-fakta pada pemeriksaan harus direkam dengan baik termasuk trauma pada daerah atau organ lain dan komplikasi akibat fraktur itu sendiri.
4.      Terapi antibiotik dan anti tetanus serum (ATS)
Pemberian antibiotik sebaiknya diberikan segera mungkin setelah terjadinya trauma. Antibiotik adalah yang berspektrum luas, yaitu sefalosporin generasi I (cefazolin 1-2 gram) dan dikombinasikan dengan aminoglikosid (gentamisin 1-2 mg/kgBB tiap 8 jam) selama 5 hari. Selanjutnya perawatan luka dilakukan setiap hari dengan memperhatikan sterilitas, dan pemberian antibiotik disesuaikan dengan hasil kultur dan sensitifitas terbaru. Bila dalamperawatan ditemukan gejala dan tanda infeksi, maka dilakukan pemeriksaan kultur dan sensitifitas ulang untuk penyesuaian ualng pemberian antibiotik yang digunakan. Pemberian anti tetanus diindikasikan pada fraktur kruris terbuka derajat III berhubungan dengan kondisi luka yang dalam, luka yang terkontaminasi, luka dengan kerusakan jaringan yang luas serta luka dengan kecurigaan sepsis. Pada penderita yang belum pernah mendapat imunisasi anti tetanus dapat diberikan gemaglobulin anti tetanus manusia dengan dosis 250 unit pada penderita diatas usia 10 tahun dan dewasa, 125 unit pada usia 5-10 tahun dan 75 unit pada anak dibawah 5 tahun. Dapat pula diberikan serum anti tetanus dari binatang dengan dosis 1500 unit dengan tes subkutan0,1 selama 30 menit. Jika telah mendapat imunisasi toksoid tetanus (TT) maka hanya diberikan 1 dosis boster 0,5 ml secara intramuskular.
5.      Debridement
Operasi bertujuan untuk membersihkan luka dari benda asing dan jaringan mati, memberikan persediaan darah yang baik di seluruh bagian itu. Dalam anestesi umum, pakaian pasien dilepas, sementara itu asisten mempertahankan traksi pada tungkai yang mengalami cedera dan menahannya agar tetap ditempat. Pembalut yang sebelumnya digunakan pada luka diganti dengan bantalan yang steril dan kulit di sekelilingnya dibersihkan dan dicukur. Kemudian bantalan tersebut diangkat dan luka diirigasi seluruhnya dengan sejumlah besar garam fisiologis. Irigasi akhir dapat disertai obat antibiotika, misalnya basitrasin. Turniket tidak digunakan karena akan lebih jauh membahayakan sirkulasi dan menyulitkan pengenalan struktur yang mati. Jaringan itu kemudian ditangani sebagai berikut :
·         Kulit
Hanya sesedikit mungkin kulit dieksisi dari tepi luka, pertahankan sebanyak mungkin kulit. Luka perlu diperluas dengan insisi yang terencana untuk memperoleh daerah terbuka yang memadai. Setelah diperbesar, pembalut dan bahan asing lain dapat dilepas.
·         Fasia
Fasia dibelah secara meluas sehingga sirkulasi tidak terhalang.
·         Otot
Otot yang mati berbahaya, ini merupakan makanan bagi bakteri. Otot yang mati ini biasanya dapat dikenal melalui perubahan warna yang keungu-unguannya, konsistensinya yang buruk, tidak dapat berkontraksi bila dirangsang dan tidak berdarah. Semua otot mati dan yang kemampuan hidupnya meragukan perlu dieksisi.
·         Pembuluh darah
Pembuluh darah yang banyak mengalami perdarahan diikat dengan cermat, tetapi untuk meminimalkan jumlah benang yang tertinggal dalam luka, pembuluh darah yang kecil dijepit dengan gunting tang arteri dan dipilin.
·         Saraf
Saraf yang terpotong biasanya terbaik dibiarkan saja. Tetapi, bila luka itu bersih dan ujung-ujung saraf tidak terdiseksi, selubung saraf dijahit dengan bahan yang tidak dapat diserap untuk memudahkan pengenalan di kemudian hari.
·         Tendon
Biasanya, tendon yang terpotong juga dibiarkan saja. Seperti halnya saraf, penjahitan diperbolehkan hanya jika luka itu bersih dan diseksi tidak perlu dilakukan.
·         Tulang
Permukaan fraktur dibersihkan secara perlahan dan ditempatkan kembali pada posisi yang benar. Tulang, seperti kulit, harus diselamatkan dan fragmen baru boleh dibuang bila kecil dan lepas sama sekali.
·         Sendi
Cedera sendi terbuka terbaik diterapi dengan pembersihan luka, penutupan sinovium dan kapsul, dan antibiotik sistemik : drainase atau irigasi sedotan hanya digunakan kalau terjadi kontaminasi hebat.
            Debridement dapat juga dilakukan dengan :
·         Pembersihan luka
Pembersihan luka dilakukan dengan cara irigasi dengan cairan NaCl fisiologis secara mekanis untuk mengeluarkan benda asing yang melekat.
·         Eksisi jaringan yang mati dan tersangka mati (debridement)
Semua jaringan yang kehilangan vaskularisasinya merupakan daerah tempat pembenihan bakteri sehingga diperlukan eksisi secara operasi pada kulit, jaringan subkutaneus, lemak, fasia, otot dan fragmen-fragmen yang lepas.
·         Pengobatan fraktur itu sendiri
Fraktur dengan luka yang hebat memerlukan suatu traksi skeletal atau reduksi terbuka dengan fiksasi eksterna tulang. Fraktur grade II dan III sebaiknya difiksasi dengan fiksasi eksterna.
·         Penutupan kulit
Apabila fraktur terbuka diobati dalam waktu periode emas (6-7 jam mulai dari terjadinya kecelakaan), maka sebaiknya kulit ditutup. Hal ini tidak dilakukan apabila penutupan membuat kulit sangat tegang. Dapat dilakukan split thickness skin-graft serta pemasangan drainase isap untuk mencegah akumulasi darah dan serum pada luka yang dalam. Luka dapat dibiarkan terbuka setelah beberapa hari tapi tidak lebih dari 10 hari. Kulit dapat ditutup kembali disebut delayed primary closure. Yang perlu mendapat perhatian adalah penutupan kulit tidak dipaksakan yang mengakibatkan sehingga kulit menjadi tegang.
·         Pemberian antibiotik
Pemberian antibiotik bertujuan untuk mencegah infeksi. Antibiotik diberikan dalam dosis yang adekuat sebelum, pada saat dan seudah tindakan operasi.
·         Pencegahan tetanus
Semua penderita dengan fraktur terbuka perlu diberikan pencegahan tetanus. Pada penderita yang telah mendapat imunisasi aktif cukup dengan pemberian toksoid tapi bagi yang belum, dapat diberikan 250 unit tetanus imunoglobulin (manusia).
6.      Penanganan jaringan lunak
Pada kehilangan jaringan lunak yang luas dapat dilakukan soft tissue tranplantation atau falap pada tindakan berikutnya, sedangkan tulang yang hilang dapat dilakukan bone grafting setelah pengobatan infeksi berhasil baik.
7.      Penutupan luka
Pada luka yang kecil dan tidak banyak kontaminasi setelah dilakukan debridement dan irigasi dapat langsung dilakukan penutupan secara primer tanpa tegangan. Pada luka yang luas dan dicurigai kontaminasi yang berat sebaiknya dirawat secara terbuka, luka dibalut kassa steril dan dilakukan evaluasi setiap hari. Setelah 5 – 7 hari dan luka bebas dan infeksi dapat dilakukan penutupan kulit secara sekunder atau melalui tandur kulit. Pada anak sebaiknya dihindari perawatan terbuka untuk menghindari terjadi khondrolisis yaitu kerusakan epiphyseal plate akibat infeksi. Penyambungan tulang pada anak relatif lebih cepat, maka reposisi dan fiksasi dikerjakan secepatnya untuk mencegahnya deformitas.
8.      Stabilitas fraktur
Dalam melakukan stabilitas fraktur awal penggunaangips sebagai temporary splinting dianjurkan sampai dicapai penanganan luka yang adekuat, kemudian bisa dilanjutkan dengan pemasangan gips sirkuler atau diganti fiksasi dalam dengan plate and screw, intermedullary nail atau external fixator devices sebagai terapi stabilisasi definitif. Pemasangan fiksasi dalam dapat dipasang setelah luka jaringan luka baik dan diyakini tidak ada infeksi lagi. Penggunaan fiksasi luar (external fixation devices) pada fraktur terbuka derajat III adalah salah satu pilihan untuk memfiksasi fragmen-fragmen fraktur tersebut dan untuk mempermudah perawatan luka harian.
Imobilisasi Gips (Plaster of Paris)
Penggunaan gips sebagai fiksasi agar fragmen-fragmen fraktur tidak bergeser setelah dilakukan manipulasi / reposisi atau sebagai pertolongan yang bersifat sementara agar tercapai imobilisasi dan mencegah fragmen fraktur tidak merusak jaringan lunak disekitarnya. Keuntungan lain dari penggunaan gips adalah murah dan mudah digunakan oleh setiap dokter, non toksik, mudah digunakan, dapat dicetak sesuai bentuk anggota gerak, bersifat radiolusen dan menjadi terapi konservatif pilihan. Pada fraktur terbuka derajat III, dimana terjadi kerusakan jaringan lunak yang hebat dan luka terkontaminasi, penggunaan gips untuk stabilisasi fraktur cukup beralasan untuk mempermudah perawatan luka. Setelah luka baik dan bebas infeksi penggunaan gips untuk fiksasi fraktur dapat dilanjutkan untuk menunjang secondary bone healing dengan pembentukan kalus.
Pemasangan fiksasi
            Pemasangan fiksasi dalam sering menjadi pilihan terapi yang paling diperlukan dalam stabilisasi fraktur pada umumnya termasuk fraktur kruris terbuka derajat III. Pilihan metode yang dipergunakan untuk fiksasi dalam ada beberapa macam, yaitu:
1.                                                     Pemasangan plate and screws
Pemasangan fiksasi dalam pada fraktur terbuka mempunyai resiko tinggi terjadi komplikasi infeksi, non-union dan refraktur. Pada penelitian awalnya pemasangan plat pada fraktur terbuka diketahui telah memperbaiki fraktur dengan penyambungan kortek langsung tanpa pembentukan kalus. Osteosit langsung menyeberangi gap antar fragmen fraktur. Tapi pada kenyataannya terjadi osteogenesis meduler dan sedikit pembentukan kalus periosteum. Pada penelitian selanjutnya diketahui bahwa pada pemasangan plat itu sendiri telah mengganggu vaskularisasi ke kortek tulang oleh plat yang berakibat gangguan aliran darah yang menyebabkan nonunion. Mengatasi permasalahan ini para pakar AO/ASIF dari Swiss telah menciptakan antara lain LCDCP (limited contact dynamic compression plate) dan ada yang membuat inovasi baru dengan merekonstruksi plat yang non-rigid dengan tidak memasang sekrup yang banyak sehingga terjadi pembentukan kalus (Matter, 1997 cit. Trafton, 2000 ). Pemasangan plat perlu hati-hati dalam melakukan irisan jaringan lunak agar tidak terjadi kerusakan periosteum, fascia dan otot karena dapat mengakibatkan non-union. Penutupan kulit diatas plat sering mengalami kesulitan dan dapat terjadi nekrosis kulit atau infeksi superfisial. Untuk pencegahan kerusakan jaringan lunak dilakukan dengan pemasangan plat dibawah kulit dan sekrup langsung dipasang ke tulang dengan bantuan alat fluoroskopi.
2.   Pemasangan screws or wires
Untuk melakukan fiksasi fraktur diafisis jarang menghasilkan fraktur yang stabil. Pemasangan screw banyak digunakan dalam fiksasi fraktuur intraartikuler dan periartikuler, baik digunakan secara tunggal atau kombinasi bersamaan dengan pemasangan plat atau external fixation device. (Behrens, 1996).
Pemasangan intramedullary nails/rods
Pada pemasangan reamed intramedullary nails dapat menyebabkan ujung-ujung fragmen fraktur diafisis mengalami robekan periosteum kehilangan blood supply sehingga meningkatkan kejadian infeksi dan non-union. Beberapa penelitian awal menyimpulkan bahwa penggunaan undreamed intramedullary nails pada fraktur tibia terbuka cukup aman terhadap vaskularisasi intrameduler dan direkomendasikan untuk stabilisasi fraktur terbuka derajat I,II dan III A, sedangkan untuk derajat IIIB dan IIIC sementara disarankan dengan traksi atau fiksasi luar. Secondary nailing dilaksanakan setelah fiksasi luar dengan syarat tidak ada tanda infeksi local maupun pin tract infection.
3.      Pemasangan external fixation devices
Akhir-akhir ini pakar lebih tertarik pemasangan fiksasi luar daripada pemasangan plat. Menurut Van der Linden dan Larson (1979) pada penelitian pemasangan plat disbanding konservatif ternyata angka infeksi lebih tinggi pada pemasangan plat seperti infeksi superfisial, nekross kulit dan osteomielitis. Kejadian infeksi pada pemasangan plat akan memerulkan operasi berulang kali. Sedangkan Clifford et al.( 1988) menyarankan pemasangan plat dilaksanakan untuk stabilisasi fraktur terbuka derajat I dan derajat II dan fraktur avulse. Menurut Bach dan Hansen (1989) yang membandingkan pemasangan plat dengan fiksasi luar pada fraktur kruris terbuka menyimpulkan bahwa pemasangan plat kurang ideal pada fraktur terbuka derajat II dan III. ( cit. Court-Brown et al., 1996). Penggunaan fiksasi luar yang pernah sangat popular di Eropa dan Amerika mempunyai resiko terjadinya komplikasi pada tempat masuknya pin (pin tract infection) sebesar 20-42 %, dan resiko terjadi malunion sebagai akibat reduksi yang kurang memadai dan akibat pelepasan fiksasi yang terlalu awal setelah lama pemasangan. Pda fraktur diafisis tibia, pemasangan fiksasi luar dengan unilateral frame external fixator merupakan indikasi, tetapi pada fraktur yang tibia proksimal atau lebih distal penggunaan multiplanar external fixator yang lebih cepat. (Court-Brown et al., 1996).

KOMPLIKASI FRAKTUR TERBUKA
Komplikasi umum
            Syok, koagulasi difus dan gangguan fungsi pernafasan terjadi selama 24 jam pertama setelah cedera. Juga terdapat reaksi metabolic lambat terhadap cedera yang terjadi beberapa hari atau beberapa minggu setelah cedera, ini mencangkup peningkatan katabolisme dan membutuhkan dukungan gizi.
·            Sindroma peremukan (Crush syndrome)
            Sindroma peremukan dapat terjadi kalau sejumlah besar massa otot remuk, seperti tukang batu yang terjatuh, atau kalau suatu turniket dibiarkan terlalu lama. Bila kompresi dilepaskan, asam miohematin (sitokrom C), akibat pemecahan otot, dibawa oleh darah ke ginjal dan menyumbat tubulus. Penjelasan lainnya adalah terjadinya spasme arteria renalis dan sel tubulus yang anoksia mengalami nekrosis.
            Syok hebat, tungkai yang dilepaskan tidak memiliki nadi dan kemudian menjadi merah, bengkak dan melepuh, sensasi dan tenaga otot dapat hilang. Sekresi ginjal berkurang dan terjadi uremia keluaran rendah dengan asidosis. Kalau sekresi ginjal pulih dalam seminggu, pasien dapat bertahan. Sebagian besar pasien, kecuali kalau diterapi dengan dialysis ginjal, menjadi semakin mengantuk dan mati dalam 14 hari.
            Untuk menghindari bencana, tungkai yang remuk hebat dan belum ditangani selama beberapa jam harus diamputasi. Karena itu, kalau turniket dibiarkan selama lebih dari 6 jam tungkai harus dikorbankan. Amputasi dilakukan di sebelah atas tempat penekanan dan sebelum tekanan dilepaskan.
            Setelah gaya tekan lenyap, amputasi tidak ada manfaatnya. Tungkai harus tetap dingin dan syok pasien diterapi. Kalau terjadi oliguria, asupan cairan dan protein dikurangi, karbohidrat diberikan (melalui mulut atau vena besar), katabolisme protein dikurangi (dengan pemberian neomisin dan steroid anabolik) dan keseimbangan elektrolit serum dipertahankan. Dialisis ginjal harus dimulai.
·         Trombosis vena dan emboli paru-paru
            Trombosis vena dalam (DVT = deep venous thrombosis) adalah komplikasi yang paling sering ditemukan pada cedera dan operasi. Insiden yang sebenarnya tidak diketahui tetapi mungkin lebih besar dari 30 % (Hedges dan Kakkar, 1988). Trombosis paling sering terjadi dalam vena-vena di btis, dan jarang dalam vena-vena proksimal dip aha dan pelvis. Thrombosis terutama berasal dari tempat yang terakhir itu dan fragmen bekunya dibawa ke paru-paru. Insiden emboli paru-paru setelah operasi ortopedik besar sekitar 5% dan insiden emboli fatal sekitar 0,5%.
            Penyebab utama DVT pada pasien pembedahan adalah hipokoagulabilitas darah, terutama akibat aktivitas factor X oleh tromboplastin yang dilepas oleh jaringan rusak. Sekali trombosis telah terjadi, factor-faktor sekunder menjadi penting, stasis dapat diakibatkan oleh turniket atau pembalut yang ketat, tekanan terhadap meja bedah dan kasur, dan imobilitas yang lama, kerusakan endotel dan peningkatan jumlah dan kelengketan trombosit dapat diakibatkan oleh cedera atau operasi.
            Pasien yang terbanyak menghadapi DVT adalah orang tua, pasien dengan penyakit kardiovaskular, pasien yang tertahan di tempat tidur setelah cedera dan pasien yang mengalami artroplasti pinggul (dimana pelebaran reaming pada tulang dan terlalu banyak manipulasi pada tungkai dapat merupakan factor predisposisi tambahan).
GAMBARAN KLINIK DVT
            Pada dasarnya, DVT adalah suatu penyakit yang tersamar yang gejalanya lebih sering samar daripada nyata. Pasien yang mengalami gejala yang sebenarnya sudah terserang DVT selama beberapa hari (Ruckle, 1986).
            Mungkin terdapat nyeri pada betis atau paha, tetapi setelah cedera atau operasi, bahkan mereka yang tidak mengeluh harus diperiksa secara teratur untuk  mencari ada tidaknya pembengkakan, nyeri pada jaringan lunak dan sedikit peningkatan suhu dan kecepatan nadi yang muncul tiba-tiba. Secara khas, pada trombosis betis terdapat peningkatan nyeri pada dorsiflesi kaki (tanda Homans).
            Diagnosis dan juga tempat trombosis yang tepat, dapat ditetapkan dengan venografi asendens yang harus dilakukan secara bilateral. Diantara metode non-infansif, scanning altrasonik mode B sangat akurat untuk mendeteksi DVT proksimal, peristiwa pendahulu yang paling bermakna untuk emboli paru-paru. Metode detteksi yang kurang dipercaya adalah pengukuran ambilan fibrinogen berlabel iodine radioaktif dalam bekuan atau penggunaan teknik Doppler untuk mengukur aliran darah.
            Embolisme paru-paru, yang hamper selalu berasal dari pelvis atau paha dan bukannya betis, sulit didiagnosis secara meyakinkan. Hanya sedikit pasien yang mempunyai tanda-tanda, misalnya nyeri dada, sesak nafas atau hemoptisis. Pasien kadang-kadang terserang nyeri dada mendadak, berubah pucat dan mati. Semua pasien DVT harus diperiksa untuk mencari ada tidaknya tanda-tanda konsolidasi paru-paru. Pada kasus yang mencurigakan, sinar X pada dada, sintigrafi paru-paru dan angiografi paru-paru mungkin diperlukan untuk menentukan diagnosis.
            Edema tungkai bawah yang kronis dan ulkus kaki (sindroma pasca flebitis) terjadi pada hamper semua pasien dengan thrombosis iliofemoral dan pada 10% pasien dengan thrombosis betis.
PENCEGAHAN
            Resiko DVT dan emboli paru-paru dapat banyak dikurangi dengan terapi profilaksis. Tindakan fisik yang sederhana antara lain adalah peninggian kaki tempat tidur, penggunaan kaus kaki elastic atau kaus kaki pembagi tekanan, dan terutama sekali penggalakkan latihan dan menyuruh pasien beranjak dari tempat tidur dan berjalan sesegera mungkin. Tindakan ini lebih efektif bila dikombinasikan dengan terpai antikoagulan, yang sekarang biasanya dianjurkan kepada pasien yang diketahui resiko tinggi. Regimen yang biasa adalah heparin subkutan dosis rendah, 5000 unit sebelum operasi dan krmudian tiga kali sehari pasca bedah hingga pasien dapat bergerak. Sayangnya, cara ini membawa resiko meningkatnya perdarahan setelah operasi dan ini merupakan kontraindikasi pada orang lanjut usia. Akhir-akhir ini, diperkenalkan heparin berbobot molekul rendah, ini sama efektifnya dengan heparin yang tidak difraksionisasi untuk mencegah DVT tetapi katanya tidak begitu berpotensi menyebabkan perdarahan. Selain itu, pengaruh utamanya adalah para trombosis vena proksimal, penyebab utama emboli paru-paru.
TERAPI
            DVT local dala betis dapat diterapi hanya dengan memasang kaus kaki elastic dan memberikan heparin subkutan dosis rendah (5000 unit tiga kali sehari) hingga pasien dapat bergerak sepenuhnya. DVT dan pasti thrombosis vena paha atau pelvis, atau emboli paru-paru yang telah pasti, harus diterapi sesegera dengan istirahat di tempat tidur, penggunaan kaus kaki elastic dan antikoagulasi penuh. Kecenderungan perdarahan dan ulkus peptikum merupakan konttraindikasi.
            Heparin diberikan secara intravena, dalam dosis tetap sebesar 10.000 unit setiap 6 jam, dengan protamin sebagi antidote bila terjadi perdarahan, atau sebaiknya dalam berbagai dosis yang diatur untuk mempertahankan aktivitas tromboplastin sebagaian pada 1,5-2,0 kali nilai normal. Ini dilanjutkan selama 5-7 hari. Selama 2 hari terakhir periode ini, diberikan wafarin secara oral dan heparin dihentikan. Dosis harian wafarin diatur untuk mempertahankan waktu protombin sekitar dua kali dari normal, terapi dilanjutkan kira-kira selama 3 bulan.
Embolisme paru-paru yang akut dan berat membutuhkan resusitasi kardiorespiratori, vasopresor untuk syok, oksigen dan heparin dosis besar (15.000 unit). Streptokinase digunakan bekuan dan untuk mencegah pembekuan selanjutnya. Antibiotika dapat diberikan untuk mencegah infeksi paru-paru.
·      Tetanus
            Organism tetanus hanya berkembang dalam jaringan mati. Organism ini menghasilkan eksotosin yang menuju susunan saraf pusat lewat darah dan saluran getah bening perineural dari derah yang terinfeksi. Toksin terkait dalam sel tanduk anterior sehingga tidak dapat dinetralkan oleh antitoksin.
            Tetanus ditandai oleh kontraksi tonik, dan belakangan klonik, terutama pada otot rahang dan muka (trismus, risus sardonicus), otot dekat luka itu sendiri, dan kemudian pada leher dan badan. Pada akhirnya, diafragma dan otot interkostal dapat kejang dan pasien mati karena asfiksia.
PROFILAKSIS
            Imunisasi aktif pada seluruh masyarakat dengan toksoid tetanus hamper mencapai ideal. Bagi pasien yang sudah diimunisasi, dosis booster toksoid diberikan walaupun luka terseburt kecil. Pada pasien yang belum diimunisasi, pembersihan luka yang cepat dan menyeluruh disertai antibiotic mungkin memadai, tetapi kalau luka terkontaminasi dan terutama kalau operasi tertunda, sebaiknya diberikan antitoksin. Serum kuda banyak membawa resiko anafilaksis, dan harus digunakan antitoksin manusia (immunoglobulin tetanus). Kesempatan ini juga digunakan untuk memulai imunisasi aktif dengan toksoid.
TERAPI
            Bila tetanus telah terjadi, sebaiknya diberikan antitoksin intravena (antitoksin manusia sebagai pllihan). Sedasi yang berat dan obat relaksan otot dapat membantu. Intubasi trakea dan pernafasan terkendali digunakan untuk pasien dengan kesulitan bernafas dan menelan.
·                                   Gas gangren
Keadaan yang mengerikan ini ditimbulkan oleh infeksi klostrodium (terutama C welchii). Organisme anaerob ini dapat hidup dan berkembang biak hanya dalam jaringan dengan tekanan oksigen yang rendah, karena itu tempat utama infeksinya adalah luka yang koto dengan otot yang mati yang telah ditutup tanpa debridement yang memadai. Toksin yang dihasilkan oleh organisme ini menghancurkan dinding sel dan dengan cepat mengakibatkan nekrosis jaringan, sehingga memudahkan penyebaran penyakit itu.
Gambaran klinik timbul dalam 24 jam setelah cedera, pasien mengeluh nyeri hebat dan terdapat pembengkakan di sekitar luka dan secret yang kecoklatan dapat ditemukan. Pembentukan gas biasanya tidak sangat nyata. Terdapat sedikit atau tidak ada demam, tetapi denyut nadi meningkat dan bau yang khas menjadi jelas. Dengan cepat pasien akan mengalami toksemia dan dapat terjadi koma dan kematian.
Gas gangren, yang ditandai dengan mionekrosis perlu dibedakan dari selulitis anaerob, dimana banyak pembentukan gas yang dangkal tetapi toksemia biasanya ringan. Kegagalan mengenai perbedaan itu dapat mengakibatkan amputasi yang tidak perlu untuk selulitis yang tidak mematikan.

PENCEGAHAN
            Luka yang menembus dalam-dalam pada jaringan otot berbahaya. Luka itu harus dieksplorasi, semua jaringan yang mati harus dieksisi dan kalau terdapat sedikit keraguan mengenai kelangsungan hidup jaringan, luka harus dibiarkan terbuka. Celakanya, tidak ada antitoksinyang efektif untuk C wellchii.
TERAPI
            Diagnosis dini adalah kunci terapi untuk menyelamatkan jiwa. Upaya umum, misalnya penggantian cairan dan pemberian antibiotika intravena dimulai segera. Oksigen hiperbatik telah digunakan sebagai cara untuk membatasi penyebaran gangrene. Tetapi cara utama terapi adalah dekompresi luka dengan segera dan pembuangan semua jaringan yang mati. Pada kasus yang parah, amputasi mungkin diperlukan.
·         Emboli lemak
Adanya gumpalan lemak yang diameternya lebih besar daripada 10 mikrometer dalam sirkulasi, dan sedikit tanda-tanda histologist dari emboli lemak pada paru-paru, terjadi pada sebagian besar orang dewasa setelah fraktur tertutup pada tulang panjang. Untungnya hanya sejumlah kecil pasien yang mengalami sindroma emboli lemak, yang sekarang dianggap sebagai bagian dari gangguan fungsi pernafasan pasca trauma.
Sumber emboli lemak kemungkinan adalah sumber tulang dan keadaan ini sering ditemukan pada pasien dengan fraktur multiple yang tertutup. Tetapi, emboli lemak telah dilaporkan pada berbagai jenis kelainan yang bukan merupakan cedera kerangka (misalnya luka bakar, infark ginjal dan operasi kardiopulmoner). Patogenesisnya masih diperdebatkan.
GAMBARAN KLINIK
            Pasien yang mengalami gejala biasanya orang dewasa muda dengan fraktur tungkai bawah. Tanda-tanda peringatan dini (dalam 72 jam dalam cedera) adalah sedikit kenaikan suhu dan denyut nadi. Pada kasus yang lebih berat terdapat sesak nafas dan sedikit kekacauan mental atau kegelisahan. Petekie harus dicari pada bagian depan dan belakang dada dan llipatan konjungtiva. Pada kasus yang paling berat mungkin terdapat gangguan pernafasan yang jelas dan koma sebagi akibat hipoksia dan sebagian akibat emboli otak. Tanda-tanda pada stadium ini terutama berupa sindroma gangguan pernafasan pada orang dewasa. Sesungguhnya, emboli lemak merupakan salah satu dari factor predisposisi utama terjadinya ARDS (Adult Respiratory Distess Syndrome). Factor-faktor lain yang penting adalh hipovolemia, penggantian cairan yang tidak tepat dan sepsis.
PEMERIKSAAN KHUSUS
            Tidak ada uji yang tak salah untuk emboli lemak, tetapi tanda-tanda yang cukup konstan adalah hipoksemia. PO2 darah harus selalu dipantau selama 72 jam pertama pada setiap cedera besar, dan nilai di bawah 60mmHg harus dicurigai.
TERAPI
            Pada kasus yang ringan tidak diperlukan terapi, tetapi diperlukan pemantauan yang tepat pada PO2 darah, dan keseimbangan cairan. Kalau terdapat tanda-tanda hipoksia, oksigen harus diberikan. Pasien dengan gangguan pernafasan yang hebat membutuhkan perawatan intensif, dengan sedasi, bantuan ventilasi dan kateterisasi Swan-Ganz untuk membantu fungsi jantung.
            Keseimbangan cairan harus dipertahankan, dan dianjurkan melakukan upaya pendukung yang lain, contohnya heparin untuk melawan tromboemboli. Steroid untuk membantu mengurangi edema paru-paru atau aprotinin (Trasylol) untuk mencegah agregasi kilomikron.
Komplikasi lokal
            Komplikasi local dapat timbul lebih dini (selama beberapa minggu pertama setelah cedera) atau belakangan (dari beberapa minggu sampai beberapa tahun setelah fraktur). Komplikasi ini selanjutnya dapat dibagi lagi memnjadi yang mempengaruhi tulang dan yang melibatkan jaringan lunak dan sendi-sendi.
·         Komplikasi dini tulang
Infeksi
Fraktur terbuka dapat terinfeksi, fraktur tertutup hamper tidak pernah trinfeksi kecuali kalau dibuka dengan operasi. Infeksi luka pasca trauma sekarang paling sering menyebabkan osteitis kronis. Keadaan ini tidak mencegah penyatuan frajtur, tetapi penyatuan akan berjalan lambat dan kesempatan mengalami fraktur ulang meningkat.
GAMBARAN KLINIK
            Terdapat riwayat fraktur terbuka atau operasi pada fraktur tertutup. Luka itu akan meradang dan mulai mengeluarkan cairan seropurulen. Pemeriksaan contoh cairan ini dapat menghasilkan stafilokokus atau kuman campuran. Sekalipun pemeriksaan bakteriologi negative, kalau tanda-tanda klinik pasien mendukung, pasien harus tetap diobservasi terus-menerus dan terapi antibiotika intravena diberikan.
TERAPI
            Semua fraktur terbuka harus dianggap berpotensi terkena infeksi dan diterapi dengan pemberian antibiotika dan secara cermat semua jaringan yang mati dieksisi. Pada infeksi akut, jaringan di sekitar fraktur harus dibuka dan didrainase. Pilihan antibiotika tergantung pada kepekaan bakteri.
            Kalau disertai osteitis kronis, sinus yang mengeluarkan secret harus dibalut setiap hari dan fraktur harus diimobilisasi agar terjadi penyatuan. Fiksasi luar berguna dalam kasus semacam itu, tetapi kalau paku intramedula sudah terlanjur dimasukkan, ini tidak boleh dilepas, yang lebih buruk daripada fraktur yang terinfeksi adalah fraktur yang terinfeksi adalah fraktur yang terinfeksi serta tidak stabil.
·         Komplikasi dini jaringan lunak
Lepuh fraktur
Keadaan ini akibat naiknya lapisan dangkal kulit karena edema, dan kadang-kadang dapat dicegah dengan pemmbalutan yang erat. Lepuh harus ditutupi dengan suatu pembalut steril yang kering.
Borok akibat gips
Borok akibat gips terjadi bila kulit menekan langsung pada tulang. Keadaan ini harus dicegah dengan memberikan bantalan pada tonjolan-tonjolan tulang dan dengan mengatur bentuk gips yang basah, sehingga tekanan didistribusikan ke jaringan lunak di sekitar tonjolan-tonjolan tulang. Bila borok akibat gipas timbul, pasien merasakan nyeri membakar local. Gips harus segera dipotong untuk membuat jendela, kalau tidak nyeri peringatan akan mereda dengan cepat dan tanpa diketahui mulai timbul nekrosis kulit.
Robekan serabut otot
Robekan serabut otot sering ditemukan pada setiap fraktur. Kecuali kalau otot tersebut digunakan secara aktif, serabut yang robek dapat menempel pada serabut yang tidak robek, kapsul atau tulang. Kalau perlekatan dibiarkan terjadi, akan diperlukan rehabilitasi yang lama setelah fraktur berkonsolidasi. Fraktur dan otot yang robek membutuhkan terapi. Lebih baik menangani kedua keadaan tersebut daripada sendiri-sendiri.

Hematrosis
Fraktur yang melibatkan sendi dapat menyebabkan hemartrosis akut. Sendi bengkak dan tegang dan pasien terhalang setiap kali mencoba menggerakkannya. Darah harus diaspirasi sebelum menangani fraktur.
Cedera pembuluh darah
Fraktur yan paling sering disertai kerusakan pada arteri utama adalah fraktur di sekitar lutut dan siku, dan fraktur batang humerus dan femur. Arteri dapat terputus, robek, tertekan atau mengalami kontusi, akibat cedera awal atau sesudahnya akibat fragmen tulang yang lancip. Meskipun penampilan luarnya normal, intima dapat terlepas dan pembuluh tersumbat oleh thrombus, atau segmen arteri mungkin mengalami spasme. Efek-efeknya bervariasi mulai dari pengurangan aliran darah sementara sampai iskemia yang jelas, kematian jaringan dan gangguan perifer.
Sindroma kompartemen
Fraktur pada lengan dan kaki dapat menimbulkan iskemia hebat sekalipun tidak ada kerusakan pembuluh besar. Perdarahan, edema atau radang (infeksi) dapat meningkatkan tekanan pada salah satu kompartemen osteofasia. Terdapat penurunan aliran kapiler yang mengakibatkan iskemia otot, yang akan menyebabkan edema lebih jauh, mengakibatkan tekanan yang lebih besar lagi dan iskemia lebih hebat, suatu lingkaran setan yang berakhir. Setelah 12 jam atau kurang, dengan nekrosis saraf dan otot dalam kompartemen. Saraf dapat mengalami regenerasi, tetapi otot sekali terkena infark, tidak dapat pulih dan digantikan oleh jaringan fibrosa yang tidak elastic (kontraktur iskemik Volkman). Rangkaian kejadian yang serupa dapat disebabkan oleh pembengkakan suatu tungkai dalam suatu cetakan gips yang ketat.
Cedera saraf
Fraktur dapat disertai komplikasi cedera saraf. Keadaan ini terutama sering ditemukan pada fraktur humerus atau cedera di sekitar lutut. Tanda-tanda yang member petunjuk harus dicari dalam pemeriksaan awal. Pada cedera tertutup, saraf jarang terputus, dan penyembuhan spontan harus ditunggu. Kalau belum terjadi penyembuhan dalam waktu yang diharapkan, saraf harus dieksplorasi, kadang-kadang saraf terjebak diantara fragmen-fragmen dan kadang-kadang ditemukan terpisah. Pada fraktur terbuka, suatu lesi lengkap (neurotmesis) kemungkinan besar terjadi. Saraf dieksplorasi selama debridement luka dan diperbaiki, atau sebagi prosedur sekunder 3 minggu kemudian.

Kompresi saraf akut kadang-kadang terjadi pada fraktur atau dislokasi di sekitar pergelangan tangan. Keluhan baal atau parestesia dalam distribusi saraf ulnaris atau medianus harus ditanggapi secara serius dan saraf dengan segera dieksplorasi dan dilakukan dekompresi.
Cedera visceral
Fraktur pada badan sering disertai komplikasi cedera pada visera yang dibawahnya, yang paling penting adalah penetrasi pada paru-paru dengan pneumotoraks yang membahayakan jiwa setelah fraktur tulang rusuk dan rupture kandung kemih atau uretra pada fraktur pelvis. Cedera ini membutuhkan terapi darurat, sebelum fraktur ditangani.
·         Komplikasi belakang tulang
Nekrosis avaskular
Daerah tertrntu dikenal memiliki kecenderungan untuk mengalami iskemia dan nekrosis tulang setelah cedera. Daerah-daerah itu adalah :
1.      Kaput femoralis (setelah fraktur pada leher femur atau dislokasi pada pinggul).
2.      Bagian proksimal dari skafoid (akibat fraktur pada pinggangnya).
3.      Lunatum (setelah dislokasi).
4.      Tubuh talus (setelah fraktur pada lehernya).
Tepatnya ini adalah komplikasi dini dari cedera tulang karena iskemia terjadi selama beberapa jam pertama setelah fraktur atau dislokasi. Tetapi, efek-efek klinik dan radiologi tidak terlihat sampai beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan kemudian.
Penyatuan terlambat
Jangan sekali-kali mengandalkan untuk menentukan kapan terapi dapat dihentikan. Kalau waktunya terlalu lama, digunakan istilah penyatuan terlambat. Penyebabnya karena pasokan darah tidak cukup. Bila terjadi fraktur pada tulang yang tidak memiliki serabut otot, terdapat resiko penyatuan lambat. Tulang yang mudah terserang antara lain adalah tulang yang cenderung terkena nekrosis avaskular, dan juga tibia bagian bawah(terutama fraktur ganda).
Infeksi fraktur terbuka lambat untuk menyatu, mungkin karena tidak banyak hematoma di sekitar fraktur tempat kalus penyelubung terbentuk. Infeksi dapat menunda penyatuan lebih jauh.


Pembebatan yang tidak benar ini mencangkup :
1.      Pembebatan yang tidak mencukupi, karena itu gips standar di bawah lutut tidak cukup menahan fraktur batang tibia.
2.      Traksi yang terlalu banyak, yang menarik tulang hingga terpisah.
Tulang disampingnya utuh kalau satu tulang pada lengan bawah atau kaki tidak patah, ujung-ujung frajtur pada tulang lainnya dapat tetap terpisah dan kemudian terjadi penundaan.
Non union
Bila keterlambatan penyatuan tidak diketahui, meskipun fraktur telah diterapi dengan memadai, cenderung terjadi non-union. Penyebab lain ialah adanya celah yang terlalu lebar dan interposisi jaringan.
Celah terlalu lebar, kalau permukaan fraktur terpisah terlalu jauh, penyatuan sangat lama atau mungkin tidak pernah terjadi. Celah dapat diakibatkan oleh fraktur tembakan yang menghancurkan banyak bagian tulang. Akibat bagian tulang yang lepas dalam kecelakaan yang menyebabkan fraktur. Reaksi otot dimana otot pasien sendiri menarik kedua fragmen hingga terpisah (seperti pada fraktur patela), atau akibat terapi dengan traksi yang berlebih.
Interposisi non-union dapat terjadi bila salah satru dari jaringan berikut ini berada di antara ujung-ujung tulang periosteum (misalnya selapis periosteum pada fraktur mata kaki), otot (misalnya fraktur femur dapat menembus otot kuadriseps), kartilago (misalnya fraktur kondilus lateral humerus dapat demikian terputar sehingga permukaan sendi kartilaginosa menghadap bahannya).
Malunion
Bila fragmen menyambung pada posisi yang tidak memuaskan (angulasi, rotasi atau pemendekan yang tidak dapat diterima) fraktur itu dikatakan mengalami malunion. Penyebabnya adalah tidak tereduksinya fraktur secara cukup, kegagalan mempertahankan reduksi ketika terjadi penyembuhan, atau kolaps yang berangsur-angsur pada tulang yang osteoporotik atau kominutif.
·      Komplikasi belakang-jaringan lunak
Ulkus dekubitus (bed sores)
Ulkus dekubitus terjadi pada manusia atau pasien yang lumpuh. Kulit, terutama di atas sakrum dan tumit, mudah terserang. Perawatan yang cermat dan aktivitas lebih awal biasanya dapat mencegah ulkus dekubitus. Sekali ulkus ini terjadi, terapi sukar, mungkin diperlukan eksisi jaringan nekrotik dan pencangkokan kulit.
Miotitis osifikans
Oksifikasi heterotopik otot kadang-kadang terjadi setelah cedera, terutama dislokasi pada siku atau pukulan pada brakialis, deltoid, atau kuadriseps. Diduga ini akibat dari kerusakan otot, tetapi keadaan ini juga terjadi tanpa cedera lokal pada pasien yang tidak sadar atau pasien paraplegia.
Tendinitis
Tendinitis dapat menyerang tendon posterior tibialis setelah fraktur maleolus medial. Tendinitis harus dicegah dengan reduksi yang tepat, kalau perlu dengan operasi terbuka.
Ruptur tendon
Ruptur belakangan pada tendon ekstensor polisis longus dapat terjadi 6-12 minggu setelah fraktur radius bagian bawah. Penjahitan langsung jarang berhasil dan ketidakstabilan yang diakibatkannya diterapi dengan memindahkan tendon ekstensor indisis peoprius ke ujung distal tendon ibu jari yang robek. Ruptur belakangan pada kaput biseps panjang setelah fraktur leher humerus biasanya tidak memerlukan terapi.
Kompresi saraf
Kompresi saraf dapat merusak saraf popliteal lateral kalau seorang lanjut usia atau pasien yang kurus berbaring dengan kaki dalam rotasi luar penuh. Kellumpuhan radialis dapat terjadi akibat kesalahan dalam penggunaan penopang. Kedua keadaan itu adalah akibat kurangnya pengawasan.
Terjepitnya saraf
Deformitas tulang atau sendi mungkin mengakibatkan terjepitnya saraf lokal dengan tanda-tanda yang khas, misalnya rasa baal atau paraestesia, hilangnya tenaga dan pengecilan otot dalam distribusi saraf yang terkena. Tempat yang sering terkena ialah :
  1. Saraf ulnaris, akibat suatu siku valgus setelah terjadi fraktur kondilus lateral yang tidak menyatu.
  2. Saraf medianus, setelah cedera sekitar daerah pergelangan tangan.
  3. Saraf tibialis posterior, setelah fraktur sekitar pergelangan kaki.
Terapinya adalah dengan dekompresi dini terhadap saraf, dalam hal saraf ulnaris dapat dibutuhkan transposisi anterior.
            Kontraktur volkman
            Setelah cedera arteri atau suatu sindroma kompartemen, pasien dapat mengalami kontraktur iskemik pada otot yang terkena. Tetapi saraf yang cedera oleh iskemia kadang-kadang sembuh kembali. Sekurang-kurangnya sebagian, kerena itu pasien memperlihatkan deformitas dan mengalami kekakuan, tetapi rasa baal tidak selalu ditemukan. Tempat yang paling sering terkena adalah lengan bawah, tangan, tungkai bawah dan kaki.
            Dalam kasus yang berat yang melibatkan lengan bawah, akan terdepat pengecilan lengan bawah dan tangan serta sikap cakar pada jemari. Kalau pergelangan tangan diflekskan secara pasif, pasien dapat mengekstensikan jari, menunjukkan bahwa deformitas ini terutama adalah akibat kontraktur dari otot lengan bawah. Pelepasan fleksor-fleksor di origonya dan disepanjang membran interoseosa di lengan bawah dapat memperbaiki deformitas, tetapi fungsi tidak lebih baik kalau sensasi dan gerakan aktif tidak dapat dipulihkan. Cangkokan saraf pedikel dengan menggunakan segmen proksimal saraf medianus dan saraf ulnaris dapat memulihkan sensasi protektif pada tangan, dan pemindahan tendon.(ekstensor pergelangan tangan ke fleksor jari dan jempol) akan memungkinkan genggaman aktif. Pada kasus yang tidak berat, daya kepekaan saraf medianus dapat amat baik dan dengan pelepasan dan pemindahan tendon secara tepat, pasien akan memperoleh kembali sejumlah besar fungsi.
            Iskemia pada tangan dapat terjadi akibat cedera lengan bawah, atau pembengkakan pada jari yang disebabkan oleh terlalu ketatnya pembalut atau gips pada lengan bawah. Otot tangan instrinsik akan mengalami fibrosis dan memendek, menarik jari ke dalam fleksi pada sendi-sendi metakarpofalangeal, tetapi sendi-sendi interfalang tetap lurus. Ibu jari teraduksi melintas telapak tangan (posisi instrinsik plus Bunnell).
            Iskemia otot betis dapat terjadi akibat cedera atau pembedahan yang melibatkan arteri poplitea atau cabang-cabangnya. Ini lebih sering ditemukan daripada yang biasanya. Gejala, tanda-tanda dan kontraktur yang terjadi berikutnya mirip dengan gejala setelah iskemia pada lengan bawah. Kadang-kadang, iskemia dapat menyerang otot instrinsik kaki, menyebabkan jari cakar pada kaki.
·      Komplikasi yang belakang-sendi
Ketidakstabilan sendi
Setelah cedera suatu sendi dapat ambruk. Penyebabnya antara lain adalah berikut :
o   Longgarnya ligamentosa, terutama pada lutut, pergelangan kaki, dan sendi metakarpofalangeal ibu jari.
o   Kelemahan otot, terutama kalau pembebatan berlebihan atau lama, dan latihan tidak cukup (lutut dan pergelangan kaki yang paling sering terkena)
o   Kehilangan tulang, terutama stelah suatu fraktur tembakan atau cedera terbuka yang berat.
Cedera juga dapat mengakibatkan dislokasi berulang. Tempat yang paling biasa adalah :
o   Bahu, kalau labrum glenoid telah terlepas.
o   Patela, kalau setelah dislokasi traumatik, kapsul sembuh dengan kurang baik.
Bentuk ketidakstabilan yang lebih halus ditemukan setelah fraktur di sekitar pergelangan tangan. Pasien yang mengeluhkan rasa tidak enak atau kelemahan yang berkelanjutan setelah cedera pergelangan tangan harus diperiksa secara lengkap untuk mencari ada tidaknya ketidakstabilan karpal kronis.
Kekakuan sendi
Kekakuan sendi yang terjadi setelah suatu fraktur biasanya terjadi di lutut, siku, bahu dan sendi-sendi kecil pada tangan. Kadang-kadang sendi sendiri mengalami cedera. Suatu hemartrosis terbentuk dan mengakibatkan perlekatan sinovial. Biasanya kekakuan terjadi akibat edema dan fibrosis pada kapsul, ligamen dan otot di sekitar sendi, atau perlekatan dari jaringan lunak satu sama lain atau ke tulang yang mendasari. Semua keadaan ini akan lebih buruk bila imobilisasi berlangsung lama. Selain itu, kalau sendi telah dipertahankan dalam posisi dimana ligamen terpendek, tidak ada latihan yang akan berhenti sepenuhnya merentangkan jaringan ini dan memulihkan gerakan yang hilang.
Pada sejumlah kecil pasien dengan fraktur lengan bawah atau kaki, pembengkakan dini pasca trauma disertai oleh nyeri tekan dan kekakuan progesif dari sendi-sendi distal. Pasien ini sangat beresiko dapat mengalami distrofi simpatik reflek (algodistrofi). Apakah ini suatu hal yang sama sekali terpisah atau hanya suatu perluasan dari reaksi jaringan lunak pasca trauma yang normal masih tidak jelas. Yang penting adalah mengenali jenis kekakuan ini bila terjadi dan menganjurkan fisioterapi oleh seorang ahli sampai fungsi normal pulih kembali.
Algodistrofi (atrofi sudeck)
Pada tahun 1900, Sudeck menguraikan suatu keadaan yang ditandai oleh osteoporosis yang nyeri pada tangan. Keadaan yang sama kadang-kadang terjadi setelah fraktur pada tungkai dan sekarang diketahui bahwa ini adalah stadium akhir dari algodistrofi pasca trauma. Ini jauh lebih sering ditemukan daripada yang semula dipercaya dan dapat terjadi akibat cedera yang relatif sepele.
Pasien mengeluhkan nyeri yang terus-menerus dan terasa membakar. Mula-mula terdapat pembengkakan lokal, kemerahan dan kehangatan, di samping nyeri tekan dan kekakuan sedang pada sendi-sendi yang berdekatan. Setelah beberapa minggu berlalu kulit menjadi pucat dan mengalami deformitas yang menetap. Sinar-X secara khas memperlihatkan penipisan tulang.
Lebih cepat keadaan ini dikenal dan terapi dimulai, prognosis akan lebih baik. Peninggian dan latihan aktif penting setelah semua cedera, tetapi pada algodistrofi hal tersebut sangat penting. Kalau tidak ada perbaikan di dalam beberapa minggu, blok simpatik atau obat simpatolitik misalnya guanetidin intravena dapat membantu. Sekalipun demikian, fisioterapi jangka panjang akan diperlukan.
Osteoatritis
Fraktur yang melibatkan sendi dapat sangat merusak rawan sendi dan menyebabkan osteoatritis pasca trauma dalam beberapa bulan. Sekalipun tulang rawan sembuh, tidak teraturnya permukaan sendi dapat menyebabkan predisposisi untuk osteoartritis sekunder beberapa tahun kemudian. Tidak banyak yang dapat dilakukan untuk mencegah keadaan ini sekali fraktur telah menyatu.
Malunion pada suatu fraktur batang dapat sama sekali mengubah mekanika sendi yang berdekatan dan ini juga dapat menyebabkan osteoartritis sekunder. Angulasi sisa yang lebih dari 15 derajatpada tulang tungkai bawah harus dengan hati-hati dinilai efeknya terhadap fungsi sendi dan kalau perlu dikoreksi oleh osteotoni.











DAFTAR PUSTAKA

1.   http://www.bedahugm.net/Bedah-Orthopedi/Fraktur-Terbuka/Penanganan.html
2.   http://www.klikdokter.com/illness/detail/105
3.   http://elyoka.blogspot.com/2009/03/fraktur-terbuka.html
4.   http://bedahumum.wordpress.com/2009/02/25/penanganan-patah-tulang-terbuka-grade-1-2-3/
5.   http://medicastore.com/penyakit/654/Patah_Tulang_fraktur_.html
6.   http://www.indonesiaindonesia.com/f/9874-patah-tulang/
KONSERVATIF+FRAKTUR+SUPRAKONDILER