11 orang yang mecoba mengejar mimpi menjadi seorang dokter yang sukses

Saturday, June 4, 2011

Ilmu Kesehatan Jiwa- Psikosis


PSIKOSIS
SKIZOFRENIA & GANGGUAN PSIKOTIK KRONIK LAIN (F20)
Keluhan:
Pasien/keluarga mungkin datang dengan keluhan:
                        Ø Kesulitan berpikir dan berkonsentrasi.
                        Ø Laporan tentang mendengar suara-suara yang tidak ada sumbernya.
                        Ø Keyakinan yang aneh, misalnya memiliki kekuatan supra natural, merasa dikejar-kejar.
                        Ø Keluhan fisik yang tidak biasa/aneh, misalnya merasa ada hewan atau objek yang tak lazim di dalam tubuhnya.
                        Ø Problem atau pertanyaan yang berkaitan dengan antipsikotik.
                        Ø Mungkin mencari pertolongan karena apatis, penarikan diri, higiene atau kebersihan yang buruk atau perilaku aneh.


Pedoman diagnostik:
Terdapat problem kronik dengan gambaran:
                        Ø Penarikan diri secara sosial
                        Ø Minat atau motivasi rendah, pengabaian diri
                        Ø Gangguan berpikir yang tampak dari pembicaraan yang tidak terangkai atau aneh.

Episode periodik berupa:
                        Ø Agitasi atau kegelisahan.
                        Ø Perilaku aneh.
                        Ø Halusinasi, misalnya mendengar suara bisikan di telinga.
                        Ø Delusi/waham yaitu keyakinan yang salah yang tidak sesuai dengan kenyataan, misalnya merasa mau diracuni oleh keluarga, menerima pesan melalui televisi.

Penatalaksanaan
                        Ø Informasikan kepada keluarga bahwa perilaku aneh dan agitasi adalah gejala penyakit jiwa, gejala dapat hilang timbul. Oleh karena itu keluarga perlu mengantisipasinya dengan memberikan obat secara teratur dan memeriksakan ke sarana kesehatan.
                        Ø Dorong pasien untuk berfungsi pada taraf yang optimal dalam pekerjaan dan kegiatan sehari-hari.
                        Ø Kurangi stres pada pasien dengan tidak berargumentasi terhadap pikirannya yang psikotik dan hindari konfrontasi atau mengeritik.
                        Ø Pada saat gejala berat sebaiknya istirahat dan menghindari stres.
                        Ø Rujuk ke Psikosis Akut (F23) untuk saran penatalaksanaan keadaan agitasi.

Medikasi:
                        Ø Berikan medikasi antipsikotik yang dimulai dengan dosis rendah dan ditingkatkan secara bertahap. (misalnya Haloperidol 3 x 2-5 mg sehari atau Chlorpromazine 3 x 100-200 mg sehari).
                        Ø Bagi pasien yang tidak patuh makan obat secara teratur, dapat diberikan antipsikotik depot misalnya injeksi Haloperidol dekanoat atau Modecate yang diberikan 1 X sebulan secara i.m.
                        Ø Beri tahu keluarga bahwa medikasi yang kontinu akan mengurangi risiko kekambuhan. Pada umumnya antipsikotik harus dilanjutkan sekurang-kurangnya 3 bulan sesudah suatu episode pertama penyakitnya dan lebih lama sesudah episode berikutnya. Beberapa pasien mungkin perlu minum obat jangka panjang, bahkan seumur hidup.
                        Ø Beri tahu pasien dan keluarga tentang kemungkinan efek samping obat (lihat daftar efek samping).

Konsultasi ke spesialis:

Dr. Rahaju Budhi Muljanto, SpKJ
                        Ø Jika fasilitas tersedia, pertimbangkan untuk konsultasi bagi semua kasus baru dengan gangguan psikotik untuk memastikan diagnosis dan terapi yang sesuai.
                        Ø Terdapat depresi atau mania dengan gangguan psikotik, yang mungkin membutuhkan terapi lain.
                        Ø Pertimbangkan konsultasi untuk kasus dengan efek samping motorik yang berat.

1. Skizofrenia 3B
Akinetic mutism: Absence of voluntary motor movement or speech in a patient who is apparently alert (as evidenced by eye movements). Seen in psychotic depression and catatonic states.
Ambivalence: Coexistence of two opposing impulses toward the same thing in the same person at the same time. Seen in schizophrenia, borderline states, and obsessive-compulsive disorders (OCDs).
2. Psikosis lainnya termasuk Psikosis Reaktif dan Psikosis Puerperal 3B

GANGGUAN PSIKOTIK AKUT (F23)
Keluhan:
Pasien mungkin mengalami:
                        Ø Mendengar suara-suara
                        Ø Keyakinan atau ketakutan yang aneh/asing
                        Ø Kebingungan
                        Ø Was-was

Keluarga mungkin minta pertolongan karena perubahan perilaku, termasuk perilaku aneh atau menakutkan (menarik diri, curiga atau mengancam).
Pedoman diagnostik:
Awitan/onset baru dari:
                        Ø Halusinasi (persepsi indera tanpa adanya rangsangan; misalnya mendengar suara pada saat tak ada sumbernya).
                        Ø Waham (ide yang dipegang teguh yang nyata salah dan tidak dapat diterima oleh kelompok sosial pasien; misalnya pasien percaya bahwa mereka diracuni oleh tetangga, menerima pesan dari televisi, atau diamati/diawasi oleh orang lain dengan suatu cara yang khas).
                        Ø Agitasi atau perilaku aneh (bizarre).
                        Ø Pembicaraan aneh atau kacau (disorganisasi).
                        Ø Keadaan emosional yang labil dan ekstrem.
                        Ø Gejala timbul mendadak kurang dari 1 bulan



Penatalaksanaan:
                        Ø Informasikan kepada keluarga bahwa agitasi dan perilaku aneh adalah gejala penyakit pasien; episode akut sering mempunyai prognosis yang baik, tapi perjalanan penyakit sukar diramalkan; diperlukan pengobatan selama beberapa bulan sesudah gejala hilang.
                        Ø Upayakan keamanan pasien dan mereka yang merawatnya:
                        - Keluarga atau teman harus mendampingi pasien.
                        - Penuhi kebutuhan dasar pasien (misalnya makan, minum dan kebersihan diri).
                        - Hati-hati agar pasien tidak mengalami cedera.
                        Ø Kurangi stres dan stimulasi
                        - Jangan berargumentasi dengan pikiran psikotik. Anda mungkin tak setuju dengan keyakinan pasien, tapi jangan coba untuk membantah bahwa mereka salah.
                        - Hindari konfrontasi atau kritik kecuali bila perlu untuk menghindari perilaku yang merugikan.

                        Ø Agitasi yang membahayakan pasien, keluarga dan masyarakat, memerlukan hospitalisasi (rawat inap) atau pengawasan ketat di rumah dan/atau tempat yang aman. Jika pasien menolak pengobatan, mungkin diperlukan tindakan hukum.
                        Ø Dorong pasien agar melakukan kegiatan sehari-hari setelah gejala membaik.

Medikasi:
                        Ø Antipsikotik akan mengurangi gejala psikotik (misalnya Haloperidol 3 x 2-5 mg sehari atau Chlorpromazine 3 x 100-200 mg sehari). Dosis harus serendah mungkin, walaupun beberapa pasien membutuhkan dosis yang lebih tinggi.
                        Ø Antiansietas juga dapat digunakan bersama dengan antipsikotik untuk mengendalikan agitasi akut (misalnya Lorazepam 3 x 1-2 mg sehari).
                        Ø Lanjutkan pemberian antipsikotik sekurang-kurangnya 3 bulan setelah gejala menghilang (lihat pedoman pemberian antipsikotik).

Monitor efek samping obat:
                        Ø Distonia atau spasme akut dapat ditanggulangi dengan suntikan Benzodiazepin (Diazepam 10 mg i.m.) atau antiparkinson (Sulfas Atropin 1-2 ampul i.m. atau Difenhidramin 2 ml i.m.)
                        Ø Akatisia (kegelisahan motorik berat) bisa ditanggulangi dengan pengurangan dosis atau Beta-bloker.
                        Ø Gejala Parkinsonisme (tremor, akinesia) bisa ditanggulangi dengan antiparkinson oral (misalnya triheksifenidil 2mg 1-3 kali sehari).

Konsultasi ke spesialis:
                        Ø Jika memungkinkan, pertimbangkan konsultasi untuk semua kasus baru gangguan psikotik.
                        Ø Pada kasus dengan efek samping motorik yang berat atau timbul demam, kekakuan, hipertensi, hentikan obat antipsikotik dan rujuk pasien ke rumah sakit.



GANGGUAN AFEKTIF

GANGGUAN BIPOLAR
1. Gangguan Bipolar, Episode Manik 3B
2. Gangguan Bipolar, Episode Depresif 3A
3. Gangguan Siklotimik 1

GANGGUAN UNIPOLAR
GANGGUAN BIPOLAR (F31)
Keluhan:
Pasien mungkin mengalami periode depresi, mania atau eksaserbasi dengan pola seperti yang diuraikan di bawah ini.
Pedoman diagnostik:
Episode manik dengan gejala:
                        - Aktivitas dan tenaga bertambah.
                        - Bicara cepat.
                        - Berkurangnya kebutuhan tidur.
                        - Perhatian mudah beralih.
                        - Peningkatan suasana perasaan dan mudah tersinggung.

Dr. Rahaju Budhi Muljanto, SpKJ
                        - Kehilangan hambatan.
                        - Merasa diri penting secara berlebihan.

Episode depresi dengan gejala:
                        - Suasana perasaan menurun atau sedih.
                        - Kehilangan minat atau kemampuan untuk merasa senang.

Gejala penyerta yang sering ditemukan:
                        - Gangguan tidur.
                        - Rasa bersalah atau rendah diri.
                        - Kelelahan atau kehilangan tenaga.
                        - Konsentrasi buruk.
                        - Gangguan nafsu makan.
                        - Pikiran atau tindakan bunuh diri.

Salah satu dari episode tersebut bisa sangat menonjol. Di antara kedua episode tersebut bisa ditemukan suasana perasaan yang normal. Pada kasus berat, pasien bisa mengalami halusinasi (mendengar suara atau melihat sesuatu yang tak ada) atau waham (keyakinan yang salah) selama episode mania atau depresi.
Penatalaksanaan:
                        Ø Informasikan kepada keluarga bahwa perubahan dalam suasana perasaan dan perilaku adalah gejala dari penyakit. Tersedia pengobatan yang efektif dan pengobatan jangka panjang bisa mencegah kekambuhan. Jika tidak diobati, episode manik bisa menjadi berbahaya terutama bila disertai dengan gejala psikotik. Episode manik sering kali menjurus kepada kehilangan pekerjaan, problem hukum, problem keuangan atau perilaku seksual yang berisiko tinggi.

                        Ø Selama depresi, tanyakan perihal bunuh diri:
                        - Apakah pasien ada pikiran tentang mati atau kematian.
                        - Apakah pasien ada rencana bunuh diri.
                        - Apakah ia pernah melakukan upaya yang serius untuk bunuh diri di masa lampau.
                        - Apakah pasien yakin tidak akan bertindak atas dasar ide bunuh diri.
                        - Tanyakan juga risiko yang merugikan orang lain (lihat depresi – F32#).

Mungkin diperlukan pengamatan ketat oleh keluarga/kerabat atau teman.
                        Ø Selama periode manik:
                        - Hindari konfrontasi, kecuali perlu untuk mencegah tindakan berbahaya/merugikan.
                        - Sarankan untuk berhati-hati terhadap perilaku impulsif atau berbahaya.
                        - Sering kali diperlukan pengawasan yang ketat oleh anggota keluarga.
                        - Jika agitasi atau perilaku kacau cukup berat, pertimbangkan hospitalisasi (rawat inap).
                        Ø Selama periode depresi, rujuk ke pedoman penatalaksanaan depresi (lihat F32#).

Medikasi:
                        Ø Jika pasien memperlihatkan agitasi, eksitasi atau perilaku kacau, mungkin pada awalnya diperlukan antipsikotik (misalnya Haloperidol 3 x 2-5 mg sehari atau Chlorpromazine 3 x 100-200 mg sehari).
                        Ø Dosis harus serendah mungkin untuk menghilangkan gejala, walaupun beberapa pasien membutuhkan dosis yang lebih tinggi. Jika timbul efek samping ekstrapiramidal, berikan antiparkinson, misalnya Triheksifenidil 2-3 x 2 mg sehari. Penggunaan rutin tidak diperlukan.
                        Ø Benzodiazepin dapat juga digunakan bersamaan dengan antipsikotik untuk mengendalikan agitasi akut (misalnya Lorazepam 4 x 1-2 mg sehari).
                        Ø Setelah pasien dalam keadaan tenang, dapat diberikan Karbamazepin 3 X 200 mg sebagai stabilisator suasana perasaan (mood stabilizer)

Dr. Rahaju Budhi Muljanto, SpKJ
                        Ø Medikasi antidepresan sering kali diperlukan selama periode depresi, tapi bisa mempresipitasi mania apabila diberikan tersendiri.

Konsultasi ke spesialis:
Pertimbangkan konsultasi spesialistik:
                        Ø Jika ada risiko tinggi untuk bunuh diri atau perilaku kacau
                        Ø Jika gejala depresi/mania yang bermakna tetap berlanjut.

4. Depresi Endogen, Episode Tunggal atau Berulang 1
GANGGUAN DEPRESI (F32)
Keluhan:
                        Ø Pasien mungkin semula mengemukakan satu atau lebih gejala fisik (misalnya kelelahan atau rasa nyeri).
                        Ø Pemeriksaan selanjutnya ditemukan gejala depresi atau kehilangan minat akan hal-hal yang menjadi kebiasaannya.
                        Ø Iritabilitas (cepat marah, cepat tersinggung) kadang-kadang merupakan masalah yang dikemukakan.
                        Ø Khusus pada anak dan remaja sering depresi bermanifestasi dalam bentuk gejala gangguan tingkah laku, menarik diri atau perilaku “acting out” (misalnya sikap menentang, ngebut, mencari perkelahian dan perilaku mencederai diri lainnya).
                        Ø Beberapa kelompok tertentu termasuk kelompok risiko tinggi, misalnya mereka yang baru saja melahirkan atau yang mengalami stroke, mereka yang menderita penyakit Parkinson atau sklerosis multipel.

Pedoman diagnostik:
                        Ø Suasana perasaan rendah atau sedih.
                        Ø Kehilangan minat/gairah atau kesenangan akan hal-hal yang menjadi kebiasaannya.
                        Ø Sering kali ditemukan gejala penyerta berikut:
                        - Gangguan tidur (sulit/kebanyakan tidur).
                        - Rasa bersalah atau hilang kepercayaan diri.
                        - Kelelahan atau kehilangan tenaga atau penurunan libido.
                        - Agitasi atau perlambatan gerak atau pembicaraan.
                        - Gangguan nafsu makan (tidak nafsu atau makan berlebihan).
                        - Pikiran atau tindakan bunuh diri atau merasa lebih baik mati.
                        - Sulit konsentrasi.
                        - Sering kali disertai juga dengan gejala ansietas atau kegelisahan.
                        Ø Jika terdapat halusinasi atau waham, pertimbangkan adanya gangguan depresi berat dengan ciri psikotik. Penatalaksanaannya merujuk ke gangguan psikotik. Jika terdapat penggunaan zat atau alkohol yang berat, rujuk ke gangguan penggunaan zat atau alkohol.
                        Ø Beberapa jenis medikasi dapat menimbulkan gejala depresi (misalnya Beta-bloker, antihipertensi lain, H2 bloker, kontrasepsi oral dan Kortikosteroid).

Penatalaksanaan:
                        Ø Informasikan kepada pasien dan keluarga bahwa depresi adalah penyakit yang lazim dan tersedia terapi yang efektif. Depresi bukan merupakan kelemahan atau kemalasan, pasien berupaya keras untuk mengatasi, tapi tidak berdaya.
                        Ø Tanyakan tentang risiko bunuh diri. Apakah pasien sering berpikir tentang kematian atau mati. Apakah pasien mempunyai rencana bunuh diri yang khas. Apakah ia telah membuat rencana yang serius untuk percobaan bunuh diri di masa yang lalu. Apakah pasien bisa yakin untuk tidak bertindak atas ide bunuh diri. Mungkin diperlukan pengawasan yang ketat oleh keluarga dan teman, atau hospitalisasi (rawat inap). Tanyakan tentang risiko mencederai orang lain.

Dr. Rahaju Budhi Muljanto, SpKJ
                        Ø Rencanakan kegiatan jangka pendek yang menyenangkan pasien atau yang membangkitkan kepercayaan diri.
                        Ø Dorong pasien untuk melawan pesimisme atau kritik diri yang berlebihan, tidak bertindak atas dasar ide pesimistik (misalnya, mengakhiri perkawinan, meninggalkan pekerjaan), dan tidak memusatkan pada pikiran negatif atau bersalah.
                        Ø Identifikasi adanya stres sosial atau problem kehidupan yang mutakhir. Fokuskan pada langkah kecil yang khas, yang dapat dilakukan oleh pasien untuk mengurangi atau mengatasi problem dengan lebih baik. Hindari keputusan yang besar atau perubahan pola hidup.
                        Ø Jika terdapat gejala fisik, bicarakan hubungan antara gejala fisik dengan suasana perasaan (lihat gejala gangguan somatoform – F45).
                        Ø Jika sudah ada perbaikan, rencanakan bersama pasien tindakan yang harus diambil jika terjadi kekambuhan.

Medikasi:
                        Ø Pertimbangkan pemberian antidepresan jika suasana perasaan sedih atau kehilangan minat menonjol selama 2 minggu dan 4 atau lebih gejala berikut ditemukan:
                        - kelelahan atau kehilangan tenaga,
                        - konsentrasi kurang,
                        - agitasi atau perlambatan gerak dan pembicaraan,
                        - gangguan tidur, khususnya terbangun dini hari dan tidak bisa tidur kembali,
                        - pikiran tentang kematian atau bunuh diri,
                        - rasa bersalah atau menyalahkan diri,
                        - nafsu makan terganggu
                        Ø Pada kasus yang berat, pertimbangkan medikasi pada kunjungan pertama.
                        Ø Pada kasus sedang, pertimbangkan medikasi pada kunjungan berikut, jika konseling tidak menolong secara memadai.
                        Ø Pilihan medikasi:
                        - Jika pasien bereaksi baik terhadap obat tertentu di masa lampau, gunakan obat itu lagi.
                        - Jika pasien usia lanjut atau sakit fisik, gunakan medikasi dengan efek samping antikolinergik dan kardiovaskuler yang lebih ringan.
                        - Jika pasien cemas atau tidak bisa tidur, gunakan obat dengan efek sedatif yang lebih kuat.
                        Ø Berikan antidepresan sampai mencapai dosis efektif (misalnya Imipramin), dimulai dengan dosis 25-50 mg setiap malam dan dinaikkan sampai 100-150 mg dalam dosis terbagi. Pada pasien usia lanjut atau sakit fisik, berikan dosis yang lebih rendah atau menggunakan antidepresan lain dengan efek samping yang minimal.
                        Ø Jelaskan kepada pasien bahwa medikasi harus diminum setiap hari, bahwa perbaikan akan terjadi dalam 2-3 minggu sesudah medikasi dimulai, dan mungkin timbul efek samping ringan, tapi biasanya menghilang dalam 7-10 hari. Tekankan bahwa pasien harus berkonsultasi dengan dokter sebelum menghentikan obat.
                        Ø Lanjutkan pemberian antidepresan sekurang-kurangnya 3 bulan sesudah keadaan membaik.

Konsultasi ke spesialis:
jika pasien menunjukkan:
                        Ø Risiko bunuh diri atau berbahaya terhadap orang lain.
                        Ø Gejala psikotik.
                        Ø Depresi tetap bertahan sesudah tindakan pengobatan di atas.

Kebutuhan akan psikoterapi yang lebih intensif (misalnya, terapi kognitif, terapi interpersonal) yang mungkin bermanfaat sebagai terapi awal dan mencegah kekambuhan.

Dr. Rahaju Budhi Muljanto, SpKJ
5. Gangguan Distimik (Depresi Neurotik) 1
6. Gangguan Depresi YTT 1

GANGGUAN CEMAS
1. Gangguan Panik dengan Agorafobia 3A
GANGGUAN FOBIK (F40)
Keluhan:
                        Ø Pasien mungkin menghindar atau membatasi aktivitas sebab rasa takut yang timbul karena objek/situasi tertentu
                        Ø Kesulitan untuk bepergian seperti pergi ke pasar atau mengunjungi orang lain.
                        Ø Kadang-kadang disertai gejala fisik (berdebar, napas pendek, asma). Dengan anamnesis dapat terungkap rasa takut yang spesifik atau khas.

Pedoman diagnostik:
                        Ø Terdapat rasa takut yang sangat terhadap tempat, peristiwa, situasi atau objek tertentu yang tidak beralasan. Pasien sering kali sama sekali menghindari semua situasi ini.
                        Ø Situasi yang umum ditakuti antara lain:
                        - meninggalkan rumah;
                        - tempat-tempat terbuka;
                        - bicara di depan umum;
                        - keramaian atau tempat-tempat umum;
                        - bepergian dengan bis, mobil, kereta api atau pesawat terbang;
                        - peristiwa sosial
                        Ø Pasien mungkin tidak mampu meninggalkan rumah atau tinggal seorang diri karena takut.
                        Ø Agorafobia (takut di tempat ramai) sering merupakan komplikasi dari gangguan panik, sedangkan sosial fobia (takut menjadi pusat perhatian) sering kali berkaitan dengan kepribadian menghindar.
                        Ø Jika yang menonjol adalah serangan ansietas, lihat Gangguan Panik – F41.0 dan jika yang menonjol suasana perasaan menurun atau sedih, lihat Gangguan Depresif – F32#.

Penatalaksanaan:
                        Ø Informasikan kepada pasien dan keluarga bahwa fobia bisa diobati dan menghindari situasi yang ditakuti akan menambah rasa takut.
                        Ø Dorong pasien agar melaksanakan metode mengatur pernapasan untuk mengurangi gejala fisik dari rasa takut.
                        Ø Minta pasien membuat daftar semua situasi yang ditakuti dan dihindarinya, yang tidak dialami oleh orang lain.
                        Ø Diskusikan cara-cara untuk menghadapi rasa takut yang berlebihan, misalnya pasien mengingatkan dirinya, ”Saya merasa sedikit cemas karena menghadapi orang banyak, perasaan ini akan berlalu dalam beberapa menit”.
                        Ø Rencanakan serangkaian langkah tertentu yang memungkinkan pasien menghadapi dan terbiasa dengan situasi yang ditakuti.
                        - Tentukan satu langkah kecil pertama menghadapi situasi yang ditakuti, misalnya keluar rumah sebentar bersama seorang anggota keluarga.
                        - Langkah ini harus dipraktikkan setiap hari selama 1 jam sampai tidak menakutkan lagi.
                        - Jika situasi yang ditakutkan itu masih menyebabkan ansietas, pasien harus mempraktikkan pernapasan yang teratur dan santai. Katakan padanya bahwa panik akan

Dr. Rahaju Budhi Muljanto, SpKJ
                        berlalu dalam 30 menit. Pasien jangan meninggalkan situasi yang ditakuti itu sebelum gejala panik hilang.
                        - Lanjutkan dengan langkah yang sedikit lebih sukar dan ulangi prosedurnya (misalnya, melewati waktu yang lebih lama di luar rumah).
                        - Jangan minum alkohol atau antiansietas paling kurang 4 jam sebelum mempraktikkan langkah-langkah ini.
                        Ø Tentukan seorang teman atau anggota keluarga yang dapat menolong mengatasi rasa takut. Kelompok tolong diri dapat membantu menghadapi situasi yang ditakuti.
                        Ø Pasien harus menghindari penggunaan alkohol atau obat penenang untuk mengatasi situasi yang ditakuti, tanpa petunjuk dokter.

Medikasi:
                        Ø Bila metode di atas tidak menolong, dapat diberikan antiansietas (misalnya Diazepam) 2-3 x 2-5 mg sehari. Penggunaan yang terus menerus dapat menimbulkan ketergantungan, dan bila dihentikan gejala akan muncul kembali.
                        Ø Bila terdapat depresi dapat diberikan antidepresan (misalnya Imipramin 2-3 X 25 -50 mg/hari).
                        Ø Beta-bloker dapat mengurangi gejala fisik.

Konsultasi ke spesialis:
                        Ø Pertimbangkan konsultasi spesialistik jika rasa takut yang mengganggu itu (misalnya pasien tidak dapat meninggalkan rumah) menetap.
                        Ø Rujuk untuk psikoterapi perilaku (bila memungkinkan), bagi pasien yang belum sembuh dengan terapi di atas.

2. Gangguan Panik tanpa Agorafobia 3A
GANGGUAN PANIK (F41.0)
Keluhan:
                        Ø Pasien datang dengan satu atau lebih gejala fisik (seperti nyeri dada, pusing, napas pendek).
                        Ø Anamnesis lebih lanjut memperlihatkan gambaran berikut.

Pedoman diagnostik:
                        Ø Serangan panik atau rasa takut yang tak dapat dijelaskan muncul secara mendadak, berkembang dengan cepat dan dapat berlangsung hanya beberapa menit.
                        Ø Serangan itu sering muncul bersama dengan gejala fisik seperti palpitasi, nyeri dada, rasa tercekik, rasa mual, pusing, perasaan bahwa keadaan menjadi tidak realistik, atau rasa takut akan terjadinya bencana pribadi (hilang kendali diri atau menjadi gila, serangan jantung, mati mendadak).
                        Ø Satu serangan sering menimbulkan rasa takut akan ada serangan lain dan penghindaran tempat-tempat serangan pernah terjadi. Pasien dapat menghindari kegiatan yang dapat menghasilkan perasaan sama dengan suatu serangan panik.
                        Ø Banyak kondisi medis dapat menyebabkan gejala yang sama dengan serangan panik (aritmia, iskemia otak, penyakit jantung koroner, tirotoksikosis). Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik harus dapat menyingkirkan semua keadaan tersebut.

Penatalaksanaan:
                        Ø Informasikan kepada pasien dan keluarga bahwa panik adalah suatu gangguan yang lazim dan dapat diobati. Ansietas sering kali menghasilkan sensasi fisik yang menakutkan. Nyeri dada, pusing atau napas pendek, tidak selalu tanda suatu penyakit fisik. Ansietas panik juga menyebabkan pikiran yang menakutkan (takut mati, perasaan akan jadi gila atau

Dr. Rahaju Budhi Muljanto, SpKJ
                        hilang kendali). Semua itu akan berlalu bila ansietas diatasi. Pemusatan perhatian kepada gejala fisik akan menambah rasa takut. Seorang yang menghindari situasi tempat serangan panik terjadi hanya akan memperkuat ansietasnya.
                        Ø Sarankan pasien untuk mengikuti langkah-langkah berikut jika serangan panik timbul:
                        - Diam di tempat sampai serangan panik berlalu.
                        - Konsentrasikan diri untuk mengatasi ansietas, bukan pada gejala fisik.
                        - Praktikkan pernapasan yang perlahan dan relaks. Bernapas terlalu dalam atau terlalu cepat (hiperventilasi) dapat menyebabkan beberapa gejala fisik dari gangguan panik. Pernapasan yang terkendali akan mengurangi gejala fisik.
                        - Katakan pada dirimu bahwa ini adalah suatu serangan panik, dan bahwa pikiran dan sensasi yang menakutkan akan segera berlalu. Perhatikan waktu berlalunya dengan jam tangan anda. Rasanya seperti lama walaupun hanya beberapa menit saja.
                        Ø Identifikasi rasa takut yang berlebihan yang timbul selama serangan panik (misalnya takut akan serangan jantung).
                        Ø Diskusikan cara menghadapi rasa takut selama serangan panik ini, misalnya mengingatkan diri sendiri: ”saya tidak mengalami serangan jantung. Ini hanya serangan panik dan akan berlalu dalam beberapa menit”.
                        Ø Kelompok tolong diri dapat membantu pasien mengatasi gejala dan rasa takut.

Medikasi:
                        Ø Jika serangan sering dan berat atau pasien mengalami depresi, berikan antidepresan (misalnya Imipramin 25 mg malam hari dan ditingkatkan sampai 100-150 mg malam hari dalam 2 minggu). Bagi pasien dengan serangan yang jarang dan terbatas, penggunaan medikasi antiansietas jangka pendek bisa menolong (Lorazepam 0,5-1,0 mg 1 sampai 3 kali sehari atau Alprazolam 0,25 – 1 mg 1 sampai 3 kali sehari). Penggunaan yang terus menerus bisa menimbulkan ketergantungan dan gejala panik akan timbul kembali bila dihentikan.
                        Ø Hindari pemeriksaan penunjang atau medikasi yang tidak perlu.

Konsultasi ke spesialis:
                        Ø Pertimbangkan konsultasi jika serangan berat masih berlanjut setelah pengobatan di atas.
                        Ø Rujuk ke psikiater untuk psikoterapi, bagi pasien yang tidak membaik dengan cara di atas.
                        Ø Umumnya panik menyebabkan gejala fisik. Hindari konsultasi medis yang tidak perlu.

3. Agorafobia tanpa Riwayat Gangguan Panik 3A
Agoraphobia: Morbid fear of open places or leaving the familiar setting of the home. May be present with or without panic attacks.
4. Fobia Sosial 3A
5. Fobia Simplex 3A
Acrophobia: Dread of high places.
Agoraphobia: Morbid fear of open places or leaving the familiar setting of the home. May be present with or without panic attacks.
Ailurophobia: Dread of cats.
Algophobia: Dread of pain.
Erythrophobia: Abnormal fear of blushing.

Dr. Rahaju Budhi Muljanto, SpKJ
6. Gangguan Obsesif Kompulsif (Neurosis) 3A

G ANGGUAN OBSESIF KOMPULSIF (F42)
Keluhan:
                        Ø Pasien mengeluh melakukan pekerjaan berulang-ulang dan tak kuasa untuk mengendalikannya, walaupun mereka menyadari bahwa pekerjaan itu tak ada gunanya.

Pedoman diagnostik:
                        Ø Obsesi adalah pikiran yang berulang-ulang yang tidak bisa dihindari oleh pasien dan yang menimbulkan ansietas yang bermakna. Biasanya pikiran tentang terkontaminasi dengan kuman, keraguan yang patologik, kecemasan tentang gangguan somatik, impuls agresif atau seksual.
                        Ø Kompulsi adalah perilaku yang berulang-ulang yang tidak bisa dihindari, untuk menetralisir atau mengurangi kecemasan akibat dari pikiran yang obsesif tadi. Perilaku kompulsif yang biasa ditemukan adalah memeriksa, mencuci, membersihkan, menghitung, menyuruh, bertanya atau mengaku dosa berulang-ulang.
                        Ø Akan timbul ansietas apabila tidak melakukan perilaku yang berulang-ulang tersebut.
                        Ø Menimbulkan dampak terhadap pekerjaan, pergaulan sosial dan hubungan dalam keluarga.
                        Ø Gejala lain yang menyertai adalah rasa bersalah dan tak berdaya.

Penatalaksanaan:
                        Ø Informasikan kepada pasien dan keluarga bahwa pikiran dan perilaku yang berulang-ulang adalah gejala dari gangguan pasien dan bukan dibuat-buat.
                        Ø Upayakan agar pasien melakukan metode relaksasi untuk mengurangi gejala fisik dari ketegangan.
                        Ø Bila gejala ringan, dapat dilakukan terapi tingkah laku.

Medikasi:
                        Ø Untuk kasus yang lebih berat, dapat diberikan Clomipramine dengan dosis 3 x 25-50 mg sehari atau Fluoxetine 1-2 x 10-20 mg sehari, mulai dengan dosis kecil yang dinaikkan secara bertahap. Mungkin diperlukan dosis yang lebih besar dibandingkan untuk gangguan depresi. Reaksi klinik mungkin dicapai setelah pemberian 6 minggu atau lebih.

Konsultasi ke spesialis:
                        Ø Bila terdapat gangguan mental lainnya atau gejala pasien sangat berat sehingga dia tak mampu bekerja atau melakukan kegiatan sehari-hari atau bila timbul ide bunuh diri.
                        Ø Bila pasien membutuhkan psikoterapi.

7. Gangguan Stres Pasca Trauma 3A
8, Gangguan Cemas Menyeluruh 3A
Anxiety: Feeling of apprehension caused by anticipation of danger, which may be internal or external.

G ANGGUAN ANSIETAS MENYELURUH (F41.1)
Keluhan:
                        Ø Mula-mula pasien memperlihatkan gejala fisik yang berkaitan dengan ketegangan (misalnya sefalgia, jantung berdebar keras) atau dengan insomnia. Anamnesis lebih lanjut akan menampilkan ciri khas ansietas yang menonjol.

Pedoman diagnostik:

Dr. Rahaju Budhi Muljanto, SpKJ
Selain ciri khas di atas terdapat pula:
                        Ø Ketegangan mental (cemas/bingung, rasa tegang atau gugup, konsentrasi buruk).
                        Ø Ketegangan fisik (gelisah, sefalgia, tremor, tidak bisa santai).
                        Ø Pembangkitan gejala fisik (pusing, berkeringat, denyut jantung cepat atau keras, mulut kering, nyeri perut).

Gejala bisa berlangsung berbulan-bulan dan sering muncul kembali. Sering dicetuskan oleh peristiwa yang menegangkan pada mereka yang cenderung khawatir secara kronik.
Penatalaksanaan:
                        Ø Informasikan kepada pasien dan keluarga bahwa stres dan rasa khawatir keduanya mempunyai efek fisik dan mental. Mempelajari keterampilan untuk mengurangi efek stres (bukan medikasi sedatif) merupakan pertolongan yang efektif.
                        Ø Mengenali, menghadapi dan menantang kekhawatiran yang berlebihan, dapat mengurangi gejala ansietas, misalnya kekhawatiran yang berlebihan muncul ketika anak gadisnya terlambat pulang 5 menit dari sekolah, pasien mengkhawatirkan kemungkinan anaknya tersebut mengalami kecelakaan.
                        Ø Diskusikan dengan pasien cara menghadapi kekhawatiran yang berlebihan ini pada saat pemunculannya (misalnya, ketika pasien mulai khawatir akan anaknya, ia dapat mengatakan kepada dirinya: “Saya mulai terperangkap dalam kekhawatiran lagi. Anak saya hanya terlambat beberapa menit saja dari sekolah dan segera akan tiba di rumah. Saya tidak akan menelepon sekolahnya untuk mencari informasi, kecuali ia terlambat 1 jam”).
                        Ø Dukung pasien untuk mempraktikkan metode relaksasi harian untuk mengurangi gejala fisik dari ketegangan.
                        Ø Dorong pasien untuk mengikuti kegiatan dan latihan yang menyenangkan, dan mengulangi kegiatan yang pernah menolong di masa lalu.
                        Ø Latihan fisik yang teratur sering menolong.

Medikasi:
                        Ø Jika dengan konseling, gejala ansietas menetap, dapat diberikan medikasi antiansietas (misalnya Diazepam 5 – 10 mg, malam hari) yang digunakan tidak lebih dari 2 minggu. Penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan ketergantungan dan apabila dihentikan gejala cenderung muncul kembali.
                        Ø Beta Bloker dapat menolong mengatasi gejala fisik.
                        Ø Bila terdapat juga gejala depresi, dapat diberi antidepresan (lihat penggunaan obat antidepresan).

Konsultasi ke spesialis:
                        Ø Konsultasi spesialistik dilakukan jika ansietas berat berlangsung lebih dari 3 bulan.

9. Gangguan Cemas YTT 3A

GANGGUAN SOMATIK
GANGGUAN SOMATOFORM (F45)
Keluhan:
                        Ø Dapat timbul gejala fisik apa saja. Gejala bisa sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh latar belakang budaya.
                        Ø Keluhan mungkin tunggal atau multipel, dan bisa berubah dari waktu ke waktu.

Pedoman diagnostik:

Dr. Rahaju Budhi Muljanto, SpKJ
                        Ø Terdapat berbagai macam keluhan dan/atau gejala fisik yang tidak dapat dijelaskan (diperlukan riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik yang lengkap untuk menetapkan gangguan ini).
                        Ø Pasien datang berulang kali walaupun hasil pemeriksaan tidak menunjukkan kelainan.
                        Ø Beberapa pasien mungkin hanya mengeluh dan ingin bebas dari keluhan atau gejala fisiknya saja. Ada pula pasien yang mungkin khawatir bahwa dirinya menderita suatu penyakit fisik dan mereka tidak percaya bahwa tidak ditemukan kelainan fisik.
                        Ø Biasanya disertai gejala depresi dan ansietas.
                        Ø Jika ada keyakinan yang aneh (misalnya organ tubuhnya membusuk), lihat Gangguan Psikotik Akut.

Penatalaksanaan:
                        Ø Informasikan kepada pasien dan keluarga bahwa stres sering dapat menimbulkan gejala fisik. Keluhan pasien adalah nyata, bukan bohong atau rekayasa.
                        Ø Tanyakan tentang keyakinan pasien (apa yang menyebabkan gejala) dan ketakutannya (apa yang ia takutkan akan terjadi).
                        Ø Yakinkan pasien (misalnya nyeri perut tidak berarti kanker). Sarankan pasien untuk tidak memusatkan perhatian terhadap kekhawatiran tentang penyakit.
                        Ø Diskusikan stres emosional yang ada ketika gejala mulai timbul.
                        Ø Metode relaksasi dapat membantu mengurangi gejala yang berkaitan dengan ketegangan (nyeri kepala, nyeri tengkuk atau punggung).
                        Ø Dorong pasien untuk berolah raga dan aktivitas yang menyenangkan.
                        Ø Dorong pasien untuk kembali ke kegiatan sehari-hari walaupun gejalanya belum hilang semua.
                        Ø Untuk pasien dengan keluhan yang lebih kronik, pertemuan yang dijadwalkan secara teratur dapat mencegah kunjungan mendesak yang lebih sering.

Medikasi:
                        Ø Hindari pemeriksaan diagnostik yang tidak perlu atau pemberian obat baru untuk setiap gejala baru.
                        Ø Antidepresan (misalnya Imipramin, SSRI) dapat menolong pada beberapa kasus (misalnya nyeri kepala, ”irritable bowel syndrome”, ”atypical chest pain”).

Konsultasi ke spesialis:
                        Ø Paling baik pasien tetap ditangani di pelayanan kesehatan dasar atau dirujuk ke psikiater (bukan ahli lain) untuk mendapatkan psikoterapi, walaupun pasien mungkin tidak senang dengan rujukan psikiatrik dan mencari konsultasi medik tambahan ke mana saja.

1. Gangguan Sensasi Tubuh 3A
2.Gangguan Konversi (Neurosis Histerik) 3A
Aphonia: Loss of voice. Seen in conversion disorder.
Gejala-gejala gangguan konversi yang sering dijumpai:
Gejala-gejala motorik:
                        Ø Gerakan-gerakan involunter
                        Ø Tics
                        Ø Blepharospams
                        Ø Torticollis
                        Ø Opistotonus
                        Ø Kejang
                        Ø Terjatuh
                        Ø Kelemahan
                        Ø Afonia

Dr. Rahaju Budhi Muljanto, SpKJ
                        Ø Astasia-abasia
                        Ø Langkah yang abnormal
                        Ø Lumpuh

Gejala-gejala defisit sensorik:
                        Ø Anestesi, terutama pada extermitas, sering berupa glove anesthesia
                        Ø Tuli
                        Ø Lapang pandang seperti teropong
                        Ø Buta

Gejala-gejala pencernakan:
                        Ø Diare
                        Ø Muntah psikogenik
                        Ø Hamil palsu
                        Ø Globus hystericus
                        Ø Swooning or syncope
                        Ø Retensi urine

3. Hipokhondriasis (Neurosis Hipokhondrik) 3A
4. Gangguan Somatisasi 3A
5. Gangguan Nyeri Somatoform 3A
6. Gangguan Somatoform YTT 3A
7. Gangguan Somatoform YTK 3A

GANGGUAN DISOSIATIF
1. Kepribadian Ganda 3A
2. Fugu 3A
3. Amnesia Psikogenik 3A
4. Gangguan Depersonalisasi atau Neurosis Depersonalisasi 3A
5. Gangguan disosiatif YTT 3A

GANGGUAN PSIKOSEXUAL
GANGGUAN SEKSUAL PADA LAKI-LAKI (F52)
Keluhan:

Dr. Rahaju Budhi Muljanto, SpKJ
Pasien pada umumnya enggan membicarakan problem seksual. Mereka biasanya mengeluh adanya gejala fisik, suasana perasaan murung atau problem perkawinan.
Pedoman diagnostik:
Gangguan seksual yang lazim terdapat pada laki-laki adalah:
                        Ø Ketidakmampuan untuk ereksi atau impotensi (tidak bisa ereksi atau ereksi berakhir sebelum tercapainya hubungan seksual yang memuaskan).
                        Ø Ejakulasi dini (ejakulasi terjadi sebelum tercapainya hubungan seksual yang memuaskan).
                        Ø Tidak mampu mencapai orgasme atau ejakulasi yang tertunda (ejakulasi tertunda lama atau malahan tidak terjadi ejakulasi, bahkan baru terjadi setelah yang bersangkutan tidur).
                        Ø Gairah seksual yang rendah (biasanya baru dirasakan sebagai suatu problem apabila pasangan tersebut menginginkan anak atau jika pasangan wanitanya mempunyai gairah seksual yang lebih tinggi).
                        Ø Hal lain yang berpengaruh pada problem seksual adalah: gangguan depresif, gangguan anxietas, problem hubungan perkawinan, gangguan fisik (misalnya diabetes, hipertensi, sklerosis multipel, penggunaan alkohol, tembakau dan medikasi tertentu).

Penatalaksanaan:
Gangguan ereksi (ketidakmampuan/kegagalan respon genital, impotensi):
                        Ø Informasikan kepada pasien dan pasangannya bahwa gangguan ereksi mempunyai banyak kemungkinan penyebab. Biasanya merupakan respon yang temporer terhadap stres atau kehilangan rasa percaya diri. Gangguan ini dapat diobati, khususnya jika masih mampu bereaksi pada pagi hari.
                        Ø Sarankan pasien dan pasangannya untuk tidak melakukan hubungan seksual selama 1 atau 2 minggu. Dorong mereka untuk melakukan kontak fisik yang menyenangkan tanpa sanggama pada saat itu dan secara bertahap kembali melakukan sanggama.
                        Ø Informasikan kepada mereka kemungkinan pengobatan secara fisik dengan menggunakan cincin penis, peralatan vakum dan suntikan intrakavernosa.

Ejakulasi dini:
                        Ø Informasikan kepada pasien dan pasangannya bahwa pengendalian ejakulasi adalah mungkin dan bisa meningkatkan kepuasan seksual bagi kedua pasangan.
                        Ø Yakinkan pasien bahwa ejakulasi dapat ditunda dengan mempelajari pendekatan baru, yaitu teknik memencet (squeeze technique), atau teknik berhenti-mulai (stop-start technique).
                        Ø Menunda ejakulasi dapat juga dilakukan dengan pemberian Klomipramin atau SSRI (misalnya Fluoxetin).

Ketidakmampuan mencapai orgasme:
                        Ø Informasikan kepada pasien dan pasangannya bahwa keadaan ini merupakan problem yang lebih sulit diatasi/diobati. Meskipun demikian bila ejakulasi dapat dilakukan dengan cara lain selain melalui sanggama (misalnya masturbasi), maka prognosis akan lebih baik.
                        Ø Anjurkan latihan seperti stimulasi pada penis dengan menggunakan minyak. Untuk program kesuburan, pertimbangkan inseminasi buatan dengan sperma suami.

Gairah seksual yang rendah:
                        Ø Informasikan kepada pasien dan pasangannya bahwa gairah seksual yang rendah mempunyai banyak penyebab, termasuk kekurangan hormon, penyakit fisik atau psikiatrik, stres dan problem hubungan antar manusia.
                        Ø Anjurkan untuk melakukan relaksasi, mengurangi stres, komunikasi secara terbuka, sikap asertif yang sesuai, dan kerja sama antara pasangan.

Konsultasi ke spesialis: